PROBOLINGGO, iNews.id – Sekolah dasar (SD) di Probolinggo ini memiliki sejarah panjang yang sangat menarik. Berawal dari gudang kentang yang diubah menjadi kelas dan tempat transfer ilmu dari guru ke siswa.
Begitulah sejarah SDN Sariwani 2, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, di lereng pegunungan Bromo yang berdiri sejak 2000.
Wow, Bocah Genius Kelas 6 SD Ini Langsung Diterima Masuk Universitas
Sumardi, adalah salah satu guru yang mengawali mengajar di SDN Sariwani 2 pada 2003. Dia memilih praktik mengajar di sana untuk memenuhi persyaratan lulus kuliah.
Meski hanya berjarak sekitar 14 kilometer dari tempat tinggalnya, medan menuju sekolah itu cukup berat dan berisiko. Sumardi harus mendaki bukit yang kanan-kirinya jurang terjal. Ia menjalaninya dengan ikhlas, bahkan betah mengajar di sana selama 20 tahun.
Siswa SDN Bantargebang Sukabumi Belajar di Tenda Darurat, Disdik: Program Prioritas
Di balik kondisi jalan berbahaya menuju sekolah dan cuaca ekstrem, Sariwani menyuguhkan keindahan alam menakjubkan. Sepanjang jalan menuju Dusun Sariwani dari Kecamatan Sukapura, tampak barisan bukit dan ladang pertanian tertata rapi. Inilah yang membuat
Sumardi selalu merasa terhibur dan bersemangat saat berangkat mengajar. Sosok yang masuk dalam buku Penggerak Perubahan: Kisah Inspiratif Transformasi Pembelajaran dari Indonesia yang diterbitkan Program Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI) itu menganggapnya rekreasi bonus mengajar.
Metode Kelas Rangkap
Awal Sumardi mengajar, gudang kentang yang digunakan untuk kelas sangatlah sederhana, beralas tanah. Saat musim hujan, gudang selalu bocor. Pembelajaran menjadi satu di gudang ini.
Setiap kelas disekat menjadi dua karena keterbatasan ruangan. Guru bersahut-sahutan saat mengajar sehingga sangat mengganggu konsentrasi belajar siswa. Hal ini terjadi beberapa tahun hingga pada akhirnya ada tokoh masyarakat yang menghibahkan tanahnya untuk mendirikan bangunan sekolah lebih layak hingga saat ini.
Pada tahun 2018, Pemerintah Kabupaten Probolinggo melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Probolinggo menggandeng Program Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (Inovasi) mengembangkan pembelajaran dengan metode kelas rangkap (multigrade teaching).
Metode ini menggabungkan siswa dua tingkat menjadi satu rombongan belajar. “Saya mendapatkan solusi atas permasalahan yang bertahun-tahun kami alami akibat kekurangan siswa, guru, dan kelas. Dengan metode kelas rangkap, kelas I bergabung dengan kelas II, kelas III dan IV, serta kelas V dengan kelas VI. Setiap kelas rangkap dipandu satu guru kelas sehingga lebih kondusif dan antarguru tidak ada lagi bersahut-sahutan dalam satu kelas,” tutur Sumardi.
Editor: Kastolani Marzuki