Pengamat Politik UB Nilai Usulan Penundaan Pemilu 2024 Sarat Kepentingan

Avirista Midaada · Rabu, 02 Maret 2022 - 16:30:00 WIB
Pengamat Politik UB Nilai Usulan Penundaan Pemilu 2024 Sarat Kepentingan
KPU putuskan KPU 2024 digelar 21 Februari. (Foto: Ilustrasi/Ist)

MALANG, iNews.id - Penundaan Pemilu 2024 yang diusulkan sejumlah elite politik dinilai sarat dengan kepentingan. Beberapa kandidat bakal calon presiden (Capres) yang diusung masing-masing partai politik hingga kini elektabilitasnya masih rendah. Sehingga mengusulkan penundaan pemilu.

Pengamat politik FISIP Universitas Brawijaya (UB), Wawan Sobari menuturkan, jika dicermati isu penundaan Pemilu 2024 itu justru diembuskan oleh Muhaimin Iskandar, Ketua Umum (Ketum) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang kemudian didukung oleh Airlangga Hartarto, Ketum Partai Golkar, dan disusul dukungan oleh Partai Amanat Nasional (PAN) melalui Ketumnya, Zulkifli Hasan. 

Wawan menilai ada kepentingan isu itu dimunculkan untuk mendongkrak elektabilitas Muhaimin Iskandar dan Airlangga Hartarto, yang masih berada di bawah dua persen.

"Mereka yang mendukung itu (penundaan Pemilu 2024),  mau maju Pilpres Cak Imin, Airlangga Hartanto sudah jelas maju diusung oleh Golkar. PAN kekuatan nggak besar. Jadi interest-nya (kepentingannya) kelihatan banget," kata Wawan Sobari, Rabu (2/3/2022).

Wawan menerangkan, penundaan Pemilu 2024 yang diwacanakan para elite politik itu menjadi keuntungan secara popularitas kepada mereka yang masih menjabat di pemerintahan sampai 2024, tetapi secara elektabilitas dan popularitas belum terlalu terdongkrak. 

Hal ini terlihat pada Muhaimin Iskandar yang menjabat sebagai Wakil Ketua DPR 2024, yang juga Ketum PKB, sedangkan sosok Airlangga Hartarto juga menjadi Menteri Koordinator (Menko) Perekonomian Republik Indonesia, kedua memang menggaungkan maju di Pilpres diusung partai politik masing-masing.

"Yang diuntungkan incumbent, yang masih menjabat di pemerintahan sampai 2024. Cak Imin masih jadi Wakil Ketua DPR sampai 2024, Airlangga masih jadi menteri sampai 2024, siapa yang berani me-reshuffle Airlangga, nggak berani, Golkar raihan suara ketiga terbanyak, dan penyokong terbesar ketiga di parlemen," ungkapnya.

Tetapi di sisi lain, kedua tokoh ini masih belum memiliki popularitas, Cak Imin misalnya memang sudah dikenal di Jawa Timur karena ia memang kelahiran Jawa Timur. Sementara itu di Jawa Barat, PKB juga cukup mendulang suara tinggi, sehingga sosoknya Cak Imin bisa jadi tak asing.

Namun dosen di Program Studi (Prodi) Ilmu Politik Universitas Brawijaya itu menyebut, popularitas Cak Imin di luar Pulau Jawa masih cukup rendah. Hal ini mungkin yang bisa dimanfaatkan, bila penundaan Pemilu 2024 terjadi.

"Seorang pejabat bisa melakukan teori marketing politik, kampanye permanen ketika dia masih menjabat, bisa mengeksplorasi posisi sebagai pejabat untuk menarik apapun simpati publik," ujarnya.

Editor : Kastolani Marzuki

Halaman : 1 2

Follow Berita iNewsJatim di Google News

Bagikan Artikel: