Sensasi Wisata Horor di Museum Ganesya Malang yang Koleksi Boneka Santet hingga Tuyul

Deni Irwansyah ยท Minggu, 02 Februari 2020 - 11:46 WIB
Sensasi Wisata Horor di Museum Ganesya Malang yang Koleksi Boneka Santet hingga Tuyul
Koleksi boneka santet di Museum Ganesya, Malang, Jawa Timur (Foto: iNews/Deni Irwansyah)

MALANG, iNews.id - Malang, Jawa Timur (Jatim) merupakan daerah yang komplit dengan wisatanya, mulai dari wisata edukasi Jatim Park hingga Museum Angkot. Baru-baru ini, Malang meresmikan Museum Ganesya yang memiliki koleksi alat-alat perdukunan.

Museum Ganesya yang berada di area Hawai Waterpark, Perumahan Graha Kencana, Malang ini cocok bagi Anda yang tertarik dengan dunia mistis.

Di museum ini terdapat ruangan yang dinamai doea sisi. Memasuksi ruangan ini, Anda akan disambut jelangkung persis di depan lift. Bau dupa yang dibakar juga cukup menyengat. Pihak pengelola juga menyarankan tidak berkunjung sendirian ke ruangan ini.

Berbagai jenis jelangkung yang didatangkan dari berbagai daerah pelosok berjajar rapi, bentuknya pun unik dengan pakaian yang berbeda-beda.

Anda juga bisa menemukan aneka jenglot. Kalau masih kurang horor, museum ini juga menampilkan berbagai boneka yang menjadi media santet yakni bonek voodoo. Boneka yang terbuat dari karung goni atau kain perca itu dibentuk serupa dengan orang yang akan disantetnya.

Operational Manager Museum Ganesya Satya Budi Putera mengatakan, tujuan dibangunnya museum ini untuk mengenalkan sisi lain dari kehidupan sehari-hari.

"Ini untuk mengenalkan bahwa dalam kehidupan sehari-hari, ada sisi baik dan sisi buruk dalam kehidupan ini," ujarnya.

Koleksi boneka santet di Museum Ganesya, Malang, Jawa Timur (Foto: iNews/Deni Irwansyah)
Koleksi boneka santet di Museum Ganesya, Malang, Jawa Timur (Foto: iNews/Deni Irwansyah)

Semua koleksi yang ada di museum kata Satya merupakan barang-barang asli yang ada di lingkungan masyarakat Indonesia.

Sementara itu, pengunjung museum Devi mengaku tertarik berkunjung ke Museum Ganesya karena menyuguhkan informasi peradaan masyarakat Indonesia sebelum masuknya Islam.

"Saya tertarik, benda-benda yang belum pernah saya tahu yang dipakai orang-orang sebelum ada peradaan agama Islam masuk," ujarnya.

Devi juga mengaku setelah mengunjungi museum ini, banyak mengetahui deretan barang-barang tersebut ada yang digunakan untuk hal positif di zaman dulu kala.

"Saya kan dulu tahunya dulu dipakai untuk negatif, ternyata enggak semua karena dulu pernah dipakai untuk kegiatan yang baik, sebelum digunakan orang yang tidak bertanggungjawab," kata Devi.

Museum ini juga memperlihatkan aneka bentuk makam-makam dengan berbagai metode pemakaman. Deretan model pesugihan juga dipertontonkan, seperti diorama tuyul dan babi ngepet.


Editor : Nani Suherni