Kisah Soerjadi Soerjadarma, dari Navigator Belanda, Polisi Jepang hingga Jadi Panglima TNI Pertama dari AU

Andin Danaryati, Tim Litbang MPI · Kamis, 25 November 2021 - 19:31:00 WIB
Kisah Soerjadi Soerjadarma, dari Navigator Belanda, Polisi Jepang hingga Jadi Panglima TNI Pertama dari AU
Soerjadi Soerjadarma, Panglima TNI pertama dari Angkatan Udara (AU). (Foto: Arsip Nasional RI)

JAKARTA, iNews.id - Marsekal Udara Soerjadi Soerjadarma merupakan Panglima TNI pertama dari Angkatan Udara (AU). Di tangannya, TNI AU terlahir yang dulu disebut AURI hingga menjadi angkatan udara paling canggih dan ditakuti di kawasan Asia Tenggara di era 1960-an.

Soerjadarma yang lahir di Banyuwangi, Jawa Timur pada 6 Desember 1912, diketahui masih keturunan bangsawan dari buyutnya, Pangeran Jakaria atau Aryabrata dari Keraton Kanoman. 

Latar belakangnya yang berada di lingkungan terpelajar membuat Soejadarma tumbuh dalam lingkup pendidikan modern. Melansir situs resmi TNI AU, sejak kecil, dia sudah memiliki minat di dunia penerbangan dan bercita-cita menjadi penerbang.

Soerjadarma memulai pendidikan di ELS (Europeesche Lagere School) yaitu sekolah dasar khusus untuk anak-anak bangsawan, pada 1918, saat usianya enam tahun. Setelah lulus tahun 1926, dia melanjutkan pendidikan ke HBS (Hogere Burgere School) di Bandung. Namun, dia tidak sempat menamatkannya karena pindah ke Jakarta. Di Jakarta, Soerjadarma bersekolah di KWS-III (Koning Willem School) hingga 1931.

Jalannya untuk menjadi penerbang masih panjang. Dia harus menjalani pendidikan perwira di KMA (Koninklijke Militaire Academie), yang terletak di Breda, Belanda. Pada September 1931, ia mendaftar pendidikan perwira dan menjadi kadet (taruna) KMA. Di sana, Soerjadarma mempelajari dasar-dasar kemiliteran dan kepemimpinan hingga lulus pada 1934.

Dia kemudian ditempatkan di Satuan Angkatan Darat Belanda di Nijmigen, Negeri Belanda sebelum dipindahkan ke Batalion I Infanteri di Magelang sampai November 1936, satu bulan setelahnya. Karena telah menjadi perwira dengan pangkat Letnan Dua, Soerjadarma bisa mendaftar sebagai Calon Kadet Penerbang.

Namun, setelah dua kali mengikuti tes, dia selalu gagal lantaran terserang malaria. Setelah tes ketiga, barulah dia berangkat ke Kalijati untuk mengikuti Sekolah Penerbang. 

Editor : Maria Christina

Bagikan Artikel: