Kisah Jenderal De Kock, Perwira Belanda yang Galau Usai Tangkap Pengeran Diponegoro

Solichan Arif ยท Selasa, 05 Juli 2022 - 14:08:00 WIB
Kisah Jenderal De Kock, Perwira Belanda yang Galau Usai Tangkap Pengeran Diponegoro
Lukisan Pangeran Diponegoro dan pengikutnya petang hari 8 Maret 1830, yang dibuat sebelum perundingan damai di Magelang. (foto: repro/ist)

SURABAYA, iNews.id - Penangkapan Pangeran Diponegoro saat berlangsungnya perundingan damai di Magelang 28 Maret 1830, meninggalkan beban tersendiri bagi Jenderal De Kock. Penangkapan Pangeran Diponegoro yang kemudian dibawa ke Batavia dan berlanjut dengan pembuangan ke Makassar hingga wafat tahun 1855, melahirkan tudingan buruk bagi Jenderal De Kock.

Keputusannya yang tiba-tiba meringkus Diponegoro saat perundingan masih berlangsung dianggap sebagai perbuatan yang tidak jujur sekaligus tidak satria. Bagi De Kock, pengakhiran Perang Jawa (1825-1830) dengan cara curang itu menjadi kenangan yang buruk dalam kehidupannya.

“Barangkali kenangan itu tidak pernah terlepas dari perasaan yang menganggu. Seperti dia sendiri telah mengakui bahwa perbuatannya di Magelang tidak satria dan tidak jujur,” tulis Harm Stevens dalam buku Yang Silam Yang Pedas, Indonesia dan Belanda Sejak Tahun 1600.

Jenderal De Kock sebelumnya dikenal sebagai tentara yang memiliki profil cukup humanis. Rasa kemanusiaan itu timbul dari pengalaman pahit yang pernah dideritanya. De Kock pernah mengalami pahitnya sebagai tawanan perang di Benggala dan Inggris (1811-1813).

Karenanya sikapnya terhadap orang Jawa cenderung baik. “Dia sedikit menaruh simpati pada orang Jawa, yang menurut dia lebih baik daripada orang-orang pemberontak Belgia yang lebih tak terkira buasnya,” kata Peter Carey seperti dikutip dari Takdir, Riwayat Pangeran Diponegoro (1785-1855).

Kebaikan pribadi Jenderal De Kock terlihat saat Gubernur Jenderal baru, Johannes Van den Bosch menginstruksikan tidak ada negosiasi dengan Diponegoro. Perintah itu terbit pada 6 Januari 1830. De Kock didesak segera menangkap hidup-hidup Pangeran Diponegoro, atau bila perlu membunuhnya.

“Jangan lakukan perundingan apa pun dengannya. Hanya penjara seumur hidup apabila dia menyerah atau tertangkap yang akan dikenakan. Tidak ada pemikiran di luar itu (yang diizinkan),” kata Van den Bosch.

Editor : Ihya Ulumuddin

Halaman : 1 2 3

Bagikan Artikel: