Gubernur Khofifah Minta Siswa SMP Korban Bullying di Malang dan Pelaku Didampingi

Ihya Ulumuddin ยท Rabu, 05 Februari 2020 - 19:14 WIB
Gubernur Khofifah Minta Siswa SMP Korban Bullying di Malang dan Pelaku Didampingi
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. (Foto: Antara)

SURABAYA, iNews.idGubernur Jawa Timur (Jatim) Khofifah Indar Parawansa meminta siswa SMP berusia 13 tahun di Kota Malang, MS, yang menjadi korban bullying atau perundungan mendapat pendampingan, baik medis maupun psikis. Upaya itu penting agar korban tidak terpuruk.

“Korban harus mendapatkan pendampingan dan bimbingan psikolog. Ini agar korban tidak mengalami trauma setelah mengalami perundungan yang cukup parah, bahkan sampai ada bagian tubuhnya yang diamputasi,” kata Khofifah, Rabu (5/2/2020).

Tidak hanya itu, Khofifah juga meminta agar pelaku bullying mendapatkan pendampingan yang tepat. Mereka yang melakukan perundungan harus dibina agar kelak tidak terjadi kejadian serupa.

“Pendampingan orang tua, guru sekolah sangat dibutuhkan pelaku. Bagaimana agar anak-anak yang masih di bawah umur ini bisa mendapatkan pemahaman yang tepat bagaimana menjalin hubungan pertemanan yang baik dengan sebayanya,” kata Ketua Umum PP Muslimat NU ini.

Lebih lanjut, Khofifah juga mengimbau kepada seluruh guru sekolah di Jatim untuk tidak lengah dalam mengawasi siswanya di sekolah. Guru kelas, guru mata pelajaran, bukan hanya bertanggung jawab pada prestasi akademik siswa saja. Guru juga ikut bertanggung jawab pada perilaku dan interaksi antar siswa di sekolah, termasuk pergaulan mereka.

Jika ada indikasi yang menyimpang, termasuk ada indikasi perundungan, guru diharapkan bisa gerak cepat untuk bisa mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Jangan sampai kejadian perundungan baru diketahui dan dihentikan ketika sudah ada jatuh korban.

Tidak hanya itu, Khofifah menekankan pentingnya fungsi konseling di sekolah. Konseling sangat penting untuk mengomunikasikan masalah-masalah yang terjadi pada siswa di sekolah.

“Jika fungsi konseling ini berjalan baik, siswa akan terbiasa untuk menceritakan masalah yang mereka hadapi pada gurunya atau konselor sebayanya. Ini menjadi penting agar hal-hal yang tidak kita inginkan bisa dicegah lebih awal,” ujarnya.

Diketahui, kasus perundungan pada siswa SMP berusia 13 tahun di Kota Malang sempat viral di media sosial. Seorang siswa berinisial MS di-bully teman sebayanya.

MS dibully dengan kekerasan yang menyebabkan syaraf jari tengah tangan kanannya tidak berfungsi. Tim dokter rumah sakit terpaksa memutuskan agar jari tengah MS tersebut harus diamputasi. Kasus perundungan pada MS kini juga ditangani oleh pihak yang berwajib.


Editor : Maria Christina