Cerita 3 Tokoh Menggemparkan asal Blitar yang Membuat Pusing Pemerintah

Solichan Arif ยท Kamis, 17 Maret 2022 - 09:55:00 WIB
Cerita 3 Tokoh Menggemparkan asal Blitar yang Membuat Pusing Pemerintah
Sawito Kartowibowo (berjas berdasi) saat menjalani persidangan (Foto : repro)

Permohonan Sawito kepada pengadilan untuk menghadirkan sejumlah saksi, mulai Presiden Soeharto, Jaksa Agung Ali Said, Adam Malik, Kepala Bakin Yoga Sugama, Letjen Ali Moertopo, Bung Hatta, SK Trimurti, JenPol Hoegeng Imam Santoso, Uskup Bogor Harsono, hingga Sigit Soeharto (putra Soeharto), ditolak majelis hakim. 

Pada 18 Juli 1978, dalam persidangan yang ke-28 atau terakhir, majelis hakim menjatuhkan vonis 8 tahun penjara dipotong masa tahanan kepada Sawito Kartowibowo. 

2. Kusni Kasdut

Sesama anggota laskar pejuang kemerdekaan di Malang Jawa Timur pada akhir penjajahan Jepang hingga jelang pertempuran 10 Nopember 1945, memanggilnya Bung Kusni.

Saat Jepang menyerah kepada Sekutu pada Agustus 1945, Kusni bergabung ke dalam barisan pejuang Badan Keamanan Rakyat (BKR), cikal bakal Tentara Nasional Indonesia (TNI). BKR berdiri empat hari paska Soekarno-Hatta membacakan proklamasi kemerdekaan.

Kusni Kasdut berjuang di wilayah Malang di mana saat itu para pejuang di jalan-jalan lazim melontarkan pekik merdeka.

Kusni berpostur tidak terlalu tinggi, namun juga tidak pendek. Perawakannya kecil, berkulit sawo matang, dengan gerak-gerik yang gesit. Kusni yang terkenal pendiam dan cenderung pemurung, memelihara kumis tipis. Kendati demikian, pemuda bersorot mata tajam itu terkenal memiliki solidaritas yang tinggi kepada sesama pejuang.

Di Malang, Kusni terlibat aksi pelucutan tentara Jepang. Dia juga ikut memimpin penyerbuan gudang-gudang senjata, merampas amunisi Jepang, dan lalu membagi-bagikan ke sesama pejuang.

Kusni juga terlibat aktif dalam aksi perebutan aset-aset vital yang sebelumnya dikuasai Jepang. Darah Kusni Kasdut mendidih ketika mendengar tentara Sekutu dan Belanda yang membonceng NICA berusaha masuk Surabaya.

Pada Oktober 1945, dengan berbekal sepucuk bedil thomson rampasan, sebutir granat rakitan produksi Claket (Malang), serta semangat nasionalisme yang membara,ia bertolak ke Surabaya. Kusni terlibat pertempuran 10 Nopember.

"Kusni dan rombongan naik kereta api menuju Surabaya. Sejak waktu masih di Rampal sampai dekat kota (Malang), suasana terus makin panas," tulis Parakitri dalam buku “Kusni Kasdut”. 

Editor : Ihya Ulumuddin

Follow Berita iNewsJatim di Google News

Bagikan Artikel: