Cerita 3 Tokoh Menggemparkan asal Blitar yang Membuat Pusing Pemerintah

Solichan Arif ยท Kamis, 17 Maret 2022 - 09:55:00 WIB
Cerita 3 Tokoh Menggemparkan asal Blitar yang Membuat Pusing Pemerintah
Sawito Kartowibowo (berjas berdasi) saat menjalani persidangan (Foto : repro)

BLITAR, iNews.id - Wilayah Blitar, Jawa Timur tidak hanya memiliki cerita tentang kemegahan Candi Penataran, kebesaran Bung Karno, serta keelokan pantai selatan. Blitar juga mempunyai cerita tentang orang-orang yang sepak terjangnya kontroversial sekaligus menggemparkan.

Karena sepak terjangnya itu, pemerintah dibuat marah dan melalui alat negara menjatuhkan hukuman. Berikut tiga orang Blitar yang memiliki sepak terjang kontroversial tersebut.

1. Sawito

Nama lengkapnya Sawito Kartowibowo. Dia lahir pada tahun 1932 di Sananwetan, salah satu Kecamatan di Kota Blitar. Pada 6 Oktober 1977, Sawito duduk di atas kursi pesakitan Pengadilan Negeri Jakarta untuk menjalani dakwaan perbuatan makar.

Sawito seorang pegawai negeri sipil Departemen Pertanian. Dia ditangkap dan diadili usai menerbitkan petisi “Menuju ke Keselamatan" yang berisi lima dokumen pernyataan.

Salah satu pernyataan "Mundur Untuk Maju Lebih Sempurna" berisi desakan kepada Presiden Soeharto untuk meletakkan jabatan. Soeharto dianggap gagal total menjalankan pemerintahan dan karenanya diminta melimpahkan kedudukan dan tugasnya kepada Mohammad Hatta.

Dalam dokumen pernyataan "Pemberian Maaf Kepada Bung Karno", Suwito juga meminta Soeharto meminta maaf kepada Bung Karno. Yang bikin heboh, dokumen yang tersebar luas itu terdapat nama Proklamator RI Moh Hatta sebagai pembuat pernyataan. Hatta juga membubuhkan tanda tangan.

Kemudian juga Prof Dr Buya Hamka selaku Ketua Majelis Islam Indonesia, Kardinal Yustinus Darmoyuwono selaku Ketua MAWI, Raden Said Tjokrodiatmodjo selaku Ketua Sekretariat Kerja Sama Kepercayaan Indonesia, TB Simatupang selaku Ketua Dewan Gereja-gereja se Indonesia, Drs Singgih dan Sawito Kartowibowo sendiri. 

Penandatangan berlangsung di Bogor, hari Selasa Kliwon, 7 September 1976. Pada buku “Sawito, ratu adil, guruji, tertuduh”, Sumi Narto menulis, Sawitotidak merasa telah berbuat jahat. Tidak ada gerakan yang menganggu ketertiban umum. Tidak ada makar dengan aksi bersenjata. 

"Tak ada sebutir peluru pun yang meletus. Bahkan tak ada air teh yang tumpah dari cawan," kata Sawitodengan tersenyum saat menyampaikan eksepsi di depan majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta. Sawito mendapat pembelaan dari Yap Thiam Hien secara probono (gratis)

Mensesneg Sudharmono menyatakan tegas: pemerintah berkesimpulan sudah terang ada usaha gelap ingin menggulingkan Presiden Soeharto dengan cara inkonstitusional. Sawito dituduh menyiapkan gerakan makar mulai tahun 1972 hingga 1976.

Editor : Ihya Ulumuddin

Bagikan Artikel: