Tragedi Perang Bubat, Catatan Hitam Hubungan Majapahit dan Pajajaran

Faqihah Husnul Khatimah ยท Sabtu, 24 September 2022 - 06:35:00 WIB
Tragedi Perang Bubat, Catatan Hitam Hubungan Majapahit dan Pajajaran
Perang bubat, catatan hitam hubungan Majapahit dan Pajajaran. (foto ilustrasi: ayobuatsejarahblogspot)

JAKARTA, iNews.id – Tragedi perang Bubat menjadi catatan hitam hubungan Majapahit dan Pajajaran. Kedua kerajaan yang pernah berjaya di Nusantara ini pernah bertarung karena ambisi Gajah Mada.

Kerajaan Majapahit terkenal pernah menguasai hampir seluruh wilayah Nusantara. Puncak kejayaan Majapahit ketika Raja Hayam Wuruk memerintah pada tahun 1350-1389. 

Menurut catatan sejarah, Kerajaan Majapahit mengalami beberapa pemberontakan, salah satunya pemberontakan Kuti. Gajah Mada merupakan orang yang berjasa menangani pemberontakan tersebut sehingga dia diangkat menjadi patih di Kahuripan, Daha, hingga Kerajaan Majapahit.

Kerajaan Majapahit berdampingan dengan Kerajaan Pajajaran menduduki Nusantara. Kerajaan Majapahit menjadi simbol kekuasaan Jawa, sedangkan Kerajaan Pajajaran menjadi simbol kekuasaan Sunda.

Catatan Hitam Hubungan Majapahit dan Pajajaran

Mulanya, tidak ada perselisihan berarti antara Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Pajajaran. Namun, catatan hitam ditorehkan oleh keduanya kala masa pemerintahan Hayam Wuruk. Catatan hitam hubungan Majapahit dan Pajajaran dilukiskan dalam Perang Bubat.

Dilansir artikel jurnal Perang Bubat, Representasi Sejarah Abad Ke-14 dan Resepsi Sastranya oleh Yeni Mulyani Supriatin, Raja Hayam Wuruk terpesona pada kecantikan Putri Raja Pajajaran Dyah Pitaloka Citraresmi. Dia ingin mempersuntingnya menjadi istri sekaligus merekatkan hubungan antara kedua kerajaan. 

Raja Hayam Wuruk telah melamarnya dan berencana melangsungkan pernikahan mereka di Majapahit. Dewan Kerajaan Pajajaran sempat menentang pernikahan tersebut. 

Namun, Dyah Pitaloka didampingi ayahnya Raja Pajajaran Prabu Linggabuana bersama rombongan tetap berangkat ke Majapahit. Sesampainya di sana mereka diterima dengan baik dan ditempatkan di Pesanggrahan Bubat.

Editor : Ihya Ulumuddin

Halaman : 1 2

Bagikan Artikel: