SPBN Campurejo penuhi kebutuhan solar untuk nelayan. (Foto: iNews.id/ihya' ulumuddin).
Ihya Ulumuddin

GRESIK, iNews.id - Secangkir kopi mengawali aktivitas Nur Huda (40) bersama para nelayan di warung Desa Campurejo, Kecamatan Panceng, Kabupaten Gresik, Kamis (10/11/2022). Matahari baru naik seujung galah, cukup bagi ayah empat anak itu untuk menjalani ritual pagi sebelum menyiapkan perbekalan melaut siang hari. 

Seduhan kopi tubruk khas pesisir utara membuat nelayan asal Desa Campurejo, Panceng, Gresik ini betah nongkrong berlama-lama. Apalagi, pagi itu teman sekolahnya singgah, membuka kembali memori saat Nur Huda mondok di Pesantren Tambakberas Jombang belasan tahun silam. 

Nur Huda tersenyum, teringat saat terpaksa berhenti sekolah di kelas 2 SMA dan memilih berjualan, lalu menetap di pesantren selama lima tahun. Dia juga tidak menyesal meski cita-citanya berbelok arah hingga membawanya ke Malaysia sebagai TKI, lalu kembali pulang ke kampung halaman dan menjadi nelayan sampai sekarang. 

Nur Huda menikmati hidupnya saat ini. Berkumpul bersama istri dan keempat anaknya di rumah sederhana di kampung nelayan Desa Campurejo. Bagi dia, tak ada kebahagiaan selain melihat keempat anaknya rajin sekolah dan istri yang selalu menunggunya pulang dari mengais rezeki. 

Saat itu, letih setelah 10 jam berjuang di tengah laut seketika sirna, berganti menjadi energi dan semangat baru untuk kembali melaut esok hari. "Dulu di Malaysia banyak uang. Tapi nggak bisa ketemu anak istri seperti sekarang," tuturnya.

Di tengah obrolan itu, sebuah motor roda tiga dengan tumpukan jerigen melintas di jalan sempit menuju dermaga. Rupanya penjual jasa yang membantu membelikan solar beberapa nelayan sekitar.

Nur Huda bericerita, solar-solar itu biasanya dikirim atas pesanan para nelayan yang tidak sempat membeli sendiri karena kesibukan. Mereka biasanya menggunakan jasa kurir dengan imbalan upah Rp15.000 per jerigen ukuran 30 liter. 

"Sekarang enak, sudah ada SPBUN (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum Nelayan) di Campurejo. Gak perlu antre dan takut kehabisan. Melaut bisa kapan saja," katanya.

Solar Langka Bikin Putus Asa 

Sulitnya mendapatkan solar bertahun-tahun dirasakan Nur Huda bersama ratusan nelayan yang tergabung dalam tiga kelompok nelayan di Kecamatan Panceng. Saban hari, mereka harus antre berjam-jam di SPBU Banyu Tengah di Jalan Raya Panceng, sekitar 5 kilometer dari dermaga untuk sekadar mendapatkan 1 jerigen solar. 

Nur Huda bercerita, dia biasanya antre di SPBU pukul 14.00 WIB sepulang melaut dan baru pulang membawa solar selepas isya'. Saking lamanya dia bahkan harus bergantian dengan istri atau ayahnya. Tujuannya agar dia cukup waktu mengumpulkan energi untuk persiapan melaut pukul 03.00 WIB esok hari. 

Nur Huda tengah mengisi solar di SPBN Campurejo, Panceng. (Foto: iNews.id/ihya ulumuddin).

"Malah kalau butuhnya solar banyak, ada yang sampai bermalam di SPBU. Kalau tidak, ya nggak dapat solar, gak sido miyang (gak jadi melaut cari ikan)," ujarnya. 

Lamanya waktu antre ini membuat sebagian besar nelayan mengunakan jasa kurir untuk membeli solar. Tujuannya agar mereka masih punya waktu untuk istirahat, menyiapkan perlengkapan melaut atau juga beraktivitas lain untuk menambah penghasilan. 

Konsekuensinya, para nelayan harus mengeluarkan uang lebih untuk membayar jasa kurir itu, yakni Rp15.000 untuk satu jerigen ukuran 30 liter. "Dengan harga solar Rp6.800 per liter, maka nelayan harus mengeluarkan Rp219.000 untuk satu jerigen solar. Tinggal ngalikan saja butunya berapa," ujarnya. 

Nur Huda mengehela napas mengenang masa-masa sulit itu. Sebab, seringkali dia gagal melaut karena tak mendapatkan solar. Bahkan beberapa waktu lalu dia nyaris berkelahi dengan sesama nelayan lantaran antrean solarnya diserobot tanpa izin. 

"Saya benar-benar marah. Sudah berjam-jam antre seenaknya diserobot. Langsung saja ajak berkelahi," tuturnya.

Kondisi sulit ini pula yang sempat membuatnya putus asa dan ingin kembali menjadi TKI di Malaysia. Alasan lainnya, hasil tangkapan ikan berkurang, tidak sebanding dengan biaya operasional yang dia keluarkan. 

Nur Huda mengatakan, setiap kali melaut, membutuhkan 60 liter solar, setara dengan Rp408.000. Kebutuhan itu belum termasuk konsumsi untuk tiga orang selama 10 jam di tengah laut, sekitar Rp100.000. 

"Kasarannya Rp500.000 sekali jalan. Sementara hasil tangkapan ikan kadang hanya Rp650.000. Dikurangi biaya solar, kami bertiga hanya bisa bawa pulang Rp50.000," tuturnya. 

Ketika solar lancar, pendapatan minim bagi Nur Huda kadang tidak menjadi soal. Sebab, dia bisa tetap melaut untuk mencoba kembali peruntungan. 

Namun, yang terjadi justru sebaliknya, solar di SPBU kosong sehingga dia tidak bisa melaut dan tidak ada pemasukan. "Kalau sudah begini, modal untuk beli solar ya terpaksa dipakai dulu untuk makan," katanya. 

Kondisi itu berkali-kali dia alami, sehingga terkadang dia terpaksa berutang untuk bertahan. Sampai-sampai, lulusan Ponpes Tambakberas Jombang itu berpikiran untuk menjual kapalnya dan kembali pergi ke luar negeri menjadi TKI. 

Tapi, niat itu tertahan oleh tangis anak-anak dan istrinya. Mereka masih ingin sosok ayah ada di rumah. Sosok bijaksana yang selalu didengar nasihat dan doa-doanya.

Jatah Solar Aman Tanpa Takut Tertukar 

Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum Nelayan (SPBUN) 58.61101 berdiri megah di ujung dermaga Desa Campurejo, Kecamatan Panceng, Kabupaten Gresik. Bangunan yang baru beroperasi awal Oktober 2022 itu masih telihat kinclong dengan dominasi warna merah dan putih khas Pertamina

Di dalam ruangan, pengelola SPBUN, Aini (40) terlihat sibuk. Sorot matanya tajam, mencocokkan tulisan yang tertera di atas secarik kertas dengan buku besar yang berisi catatan pembelian. 

Nelayan Gresik bersemangat melaut mencari ikan dengan hadirnya SPBUN Campurejo. (fotoL iNewsid.Ihya Ulumudin)

Kertas itu merupakan surat rekomendasi dari UPT Dinas Perikanan Kabupaten Gresik yang berisi jatah solar untuk para nelayan. Surat itulah yang harus dibawa para nelayan saat memberi solar di SPBUN Campurejo. 

Surat rekomendasi itu menjadi rujukan pengelola SPBUN untuk melayani para pembeli, mulai dari nama nelayan, jenis kapal yang digunakan hingga kuota solar yang menjadi jatah mereka. Tujuannya agar jatah solar yang diberikan tidak melebihi kuota atau bahkan tertukar dengan nelayan lainnya. 

"Semua nelayan yang menjadi pelanggan SPBUN di sini sudah tercatat, termasuk kuotanya. Semua harus sesuai. Misalnya, jatahnya 60 liter per hari, maka maksimal pembelian ya 60 liter tidak boleh lebih," kata perempuan berkerudung itu. 

Aini menjelaskan, rekomendasi pembelian solar untuk nelayan berlaku untuk satu bulan. Setelah itu, mereka bisa mengajukan perpanjangan dengan syarat membawa Nomor Induk Berusaha (NIB) serta identitas diri, lengkap dengan jenis kapal dan kapasitasnya. 

Atas pengaturan itu, pembelian solar di SPBUN Campurojo selalu tertib. Tidak pernah ada antrean atau bahkan kekurangan. Apalagi, pasokan solar dari Pertamina juga selalu aman. 

Aini mengatakan, setiap dua hari sekali, SPBUN Campurejo dipasokan solar sebanyak 16.000 liter. Jumlah itu masih mencukupi untuk seluruh nelayan yang ada di Campurejo.

Begitulah, SPBUN Campurejo benar-benar menjadi penolong ratusan nelayan sekitar. Sebab, mereka tak lagi repot jauh-jauh ke SPBU atau bahkan antre berjam-jam seperti sebelumnya. 

"Sejak ada SPBN ini semuanya menjadi normal. Nelayan bisa melaut kapan pun tanpa resah lagi," kata salah seorang nelayan, Sahid. 

Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani atau Gus Yani menyambut baik respons para nelayan atas SPBUN Campurejo tersebut. Dia berharap, fasilitas itu dapat dimaksimalkan, sehingga nelayan semakin sejahtera. 

Dia juga berjanji akan memfasilitasi pembangunan tiga SPBUN lain di wilayah pesisi Kabupaten Gresik, yakni di Kecamatan Mangare, Sidayu dan Lumpur. Sebab, di tiga wilayah itu jumlah nelayan juga cukup banyak. "Ini sudah disiapkan. Mudah-mudahan tahun depan lancar pembangunannya," katanya.


Editor : Kuntadi Kuntadi

BERITA TERKAIT