Peninggalan Sunan Gunung Jati
Berikut ini tiga sarana yang digunakan Sunan Gunung Jati mendukung dakwahnya, yang menjadi peninggalannya.
1. Pesantren
Syarif Hidayatullah mendirikan sebuah pesantren Dukuh Sembung wilayah Pasambangan dan mengajar agama Islam di Kampung Babadan. Pada tahun-tahun pertamanya di Cirebon ia banyak aktif menjadi pendidik/guru sebagai pengganti Syekh Datuk Kahfi sekaligus menyesuaikan diri dengan adat kebiasaan dan nilai-nilai yang berkembang pada masyarakat Cirebon yang baru dikenalnya pada saat itu.
Pada masa kepemimpinan Syarif Hidayatullah dan penyebar agama Islam, ia banyak memprioritaskan pengembangan Islam dengan jalan mendirikan sebuah masjid-masjid jami di setiap wilayah yang ada di Cirebon.
2. Keraton Kasepuhan
Keraton Kasepuhan merupakan salah satu peninggalan dari Sunan Gunung Jati. Selain digunakan sebagai media seni dan tradisi, keraton ini dibangun sebagai media dakwahnya.
Bentuk bangunan yang masih melekat pada masyarakat Cirebon dengan kebudayaan peninggalan Hindu-Budha tidak dihilangkan, contohnya dibagian ruang tamu Keraton Kasepuhan berupa ukiran yang sudah ada sejak zaman Hindu tetap dilestarikan bahkan di kalangan keraton.
Lalu terdapat motif gapura wadasan yang merupakan salah satu langkah dari Sunan Gunung Jati dalam melakukan dakwahnya. Gapura ini terletak di depan bangunan utama keraton yang bermotif mega mendung (awan hujan) di atasnya dan batu wadas yang berada dibawahnya.
3. Masjid Agung Sang Ciptarasa
Peninggalan yang lainnya yakni Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Masjid ini merupakan salah satu bangunan peninggalan Kerajaan Cirebon. Bangunan Masjid ini juga dikenal dengan nama Masjid Agung Cirebon atau Masjid Sunan Gunung Jati.
Demikian ulasan mengenai biografi Sunan Gunung Jati, salah satu anggota Wali Songo yang menyebarkan agama Islam di tanah Sunda.
Editor : Ihya Ulumuddin
Artikel Terkait