Transaksi Pelaku Usaha saat Misi Dagang Provinsi Jatim di Riau Tembus Rp362 Miliar

Ihya Ulumuddin · Jumat, 06 Maret 2020 - 03:02:00 WIB
Transaksi Pelaku Usaha saat Misi Dagang Provinsi Jatim di Riau Tembus Rp362 Miliar
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa saat kegiatan Misi Dagang Provinsi Jatim dengan Provinsi Riau di Pekanbaru, Kamis (5/3/2020). (Foto: iNews.id/Pemprov Jatim)

PEKANBARU, iNews.id – Gubernur Jawa Timur (Jatim) Khofifah Indar Parawansa memimpin kegiatan Misi Dagang Provinsi Jatim dengan Provinsi Riau di Pekanbaru, Kamis (5/3/2020). Khofifah membawa 98 pelaku usaha Jatim untuk bertemu dengan 168 pelaku usaha asal Riau.

Hingga kegiatan untuk memperluas perdagangan antar daerah ini ditutup, transaksi antara trader dengan buyer dari Jatim dan Riau selama tujuh jam menembus angka Rp362 miliar. Hal ini menunjukkan market perdagangan dalam negeri antarkedua daerah baik Jatim maupun Riau begitu besar.

“Kami mencoba mempertemukan trader dan buyer melalui Misi Dagang ini. Misi dagang di Pekanbaru ini menjadi kegiatan kedua yang kami selenggarakan di tahun 2020. Kami berharap agar transaksi bisa terjadi secara berkelanjutan antara Jatim dan Riau,” kata Khofifah.

Gubernur perempuan pertama Jatim ini mengatakan, saat ini kondisi ekonomi dunia dipengaruhi perang dagang antara Amerika Serikat-China dan efek virus korona. Hal ini membuat prediksi pertumbuhan ekonomi dunia, nasional, dan regional mengalami koreksi karena ada pengaruh pada ekspor dan impor. Namun, kondisi ini perlu diantipasi agar pertumbuhan ekonomi lokal tidak mengalami pelemahan.

“Di sisi lain kita ini punya captive market luar biasa di perdagangan dalam negeri. Maka kita menginisiasi mempertemukan trader dengan buyer. Seperti di Riau ini, mereka butuh apa dan kita bisa suplai apa, begitu sebaliknya. Itu yang kita match-kan,” kata Khofifah.

Menurut Khofifah, saat ini Jatim memang banyak menyuplai daging sapi ke Riau. Namun, ke depan bentuk business matching ini bukan hanya yang berhubungan dengan logistik saja, melainkan juga dalam bentuk pelatihan dan permberdayaan.

Dia mencontohkan, peternak sapi Riau yang tertarik untuk membudidayakan sapi supaya lebih masif, bisa bekerja sama dengan Jatim. Sebab, Jatim memiliki petugas inseminasi buatan dan pemeriksa kebuntingan serta didukung Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) milik Kementerian Pertanian di Singosari, Malang. Dengan begitu, Jatim juga akan mengurangi suplai daging sapi ke sini.

Di sektor pertanian,  bibit cabai dari Jatim juga banyak diminati Riau. Kemudian, dolomit yang banyak diminati sebagai pupuk lantaran Riau memiliki jutaan hektare lahan perkebunan sawit. Berdasarkan data dari Sekdaprov Riau, di sini lahan sawitnya mencapai 3,4 juta hektare.

“Jadi ini area yang sangat besar kebutuhan dolomitnya. Sementara kita punya deposit dolomit cukup besar dan kandungan magnesiumnya signifkan, maka ini pentingnya kita menemukenalkan potensi dan kebutuhan antardaerah,” kata Khofifah.

Saat ini, antardaerah memiliki interpendensi atau saling ketergantungan satu dengan yang lain. Karena itu, setiap daerah membutuhkan strong partnership agar perekonomiannya bisa tumbuh.

“Memang sekarang ditutup Rp362 miliar. Tapi ini penutupan seremoni, interaksi dan transaksi mereka akan berlanjut dan kami harap terus kontinyu,” katanya.

Sementara itu Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jatim Difi Ahmad Johansyah mengatakan, jika ekspor atau permintaan eksternal melemah akibat adanya isu global, maka pertumbuhan ekonomi bisa dikompensasi dengan permintaan antardaerah.

Salah satu cara yang efektif menangkal pelemahan ekonomi di tengah kondisi global saat ini dengan memperkuat perdagangan antardaerah. Apalagi, potensi perdagangan dalam negeri cukup besar dan luar biasa.

“Termasuk bagi Jawa Timur yang menjadi pemasok 17 provinsi di kawasan timur Indonesia. Maka, perdagangan antardaerah menjadi hal strategis,” kata Difi.

Editor : Maria Christina

Bagikan Artikel: