Tragedi Berdarah di Kerajaan Demak, Pewaris Tahta Tewas Dibunuh usai Salat Jumat 

Avirista Midaada · Jumat, 17 September 2021 - 08:09:00 WIB
Tragedi Berdarah di Kerajaan Demak, Pewaris Tahta Tewas Dibunuh usai Salat Jumat 
Pewaris tahta kerajaan Demak, Raden Kikin tewas dibunuh usai manjalankan salat Jumat. (ilustrasi).

MALANG, iNews.id - Kerajaan Islam Demak tak luput dari intrik dan perang saudara. Tragedi berdarah bahkan pernah menyelimuti kerajaan Islam terbesar di Pulau Jawa ini. 

Tepat usai salat Jumat, pewaris tahta Kerajaan Demak, Raden Kikin, ditikam oleh utusan Raden Mukmin, ayah Sultan Trenggana, hingga tewas. Tragedi berdarah ini pula yang menjadi awal perang saudara di Kerajaan Islam Demak.  

Dikisahkan dalam buku Hitam Putih Raja-Raja Jawa Intrik, Konspirasi Perebutan Harta, Tahta, dan Wanita karya Sri Wintala Achmad, dijelaskan Demak saat itu dikuasai Arya Penangsang.

Saat itu Arya Penangsang berhasil merebut kekuasaan Kerajaan Demak setelah berhasil membunuh Sunan Prawata melalui utusannya yakni Rangkut. Setelah itu Arya Penangsang juga sempat berselisih dengan Raden Mukmin, hingga memunculkan pertikaian antara Pajang dan Jipang. Kisruh tersebut bermula sejak Sultan Trenggana akan naik tahta sebagai sultan Demak.

Pada masa itu Raden Mukmin yang menghendaki ayahnya sebagai sultan Demak, memerintahkan Ki Surayata untuk membunuh Raden Kikin, ayah Arya Penangsang. Tujuannya, agar Raden Kikin, pesaing Sultan Trenggana, tidak menjadi raja.

Pada saat pulang salat Jumat, Raden Kikin yang baru sampai di jembatan dekat Masjid Demak ditikam oleh Ki Surayata hingga tewas. Oleh utusan Raden Mukmin, mayat Raden Kikin pun dibuang ke sungai. Kelak, Raden Kikin dikenal dengan Pangeran Seda Lepen, atau pangeran yang meninggal di sungai.

Editor : Ihya Ulumuddin

Halaman : 1 2

Bagikan Artikel: