Terpidana Korupsi Suap Fuad Amin Imron Meninggal Dunia akibat Jantung

Ihya' Ulumuddin ยท Senin, 16 September 2019 - 17:51 WIB
Terpidana Korupsi Suap Fuad Amin Imron Meninggal Dunia akibat Jantung
Mantan Bupati Bangkalan Fuad Amin Imron meninggal dunia setelah dirawat di rumah sakit di Surabaya. (Foto: Koran SINDO)

SURABAYA, iNews.id – Mantan Bupati Bangkalan Fuad Amin Imron meninggal dunia di Rumah Sakit (RS) Graha Amerta Surabaya.

Terpidana kasus korupsi suap dan jual beli PNS ini  mengembuskan napas terakhir sekitar pukul 16.00 WIB, karena penyakit jantung. Belum ada keterangan resmi dari pihak keluarga atas meninggalnya tokoh Madura ini.

Namun, kabar yang semula beredar di sejumlah grup WhatsApp (WA) ini dibenarkan oleh Humas RSUD Dr Soetomo Pesta Manurung.

Ya benar, Pak Fuad Amin meningal dunia. Penyebabnya sakit jantung. Sekitar jam 16.00-an,” katanya, Senin (16/9/2019).

Pesta belum mengetahui sejak kapan Fuad Amin dirawat di rumah sakit milik Pemprov Jatim tersebut. Sebab, pihaknya belum mendapatkan konfirmasi dari bagian administrasi. “Sebentar, masih belum saya cek,” katanya.

BACA JUGA: Lelang Barang Rampasan dari Fuad Amin Laku Rp3,2 M, Ada Apartemen & Motor Sport

Diketahui, Fuad Amin pernah menjadi anggota DPR peripde 1999-2004. Belum sampai habis masa jabatan, Fuad terpilih sebagai Bupati Bangkalan selama dua periode. Yakni sejak 2003 hingga 2013. Setelah itu, posisinya digantikan anaknya, Ra Momon.

Kendati demikian, karier politik Fuad tidak berhenti. Dia masuk ke partai Gerindra dan terpilih sebagai Ketua DPRD Bangkalan periode 2014-2019.

Namun, posisi ini berakhir di tengah jalan. Dia terkena operasi tangkap tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam kasus suap dan jual beli jabatan.

BACA JUGA: KPK Lelang Rumah dan Apartemen Mantan Bupati Bangkalan Fuad Amin

Pada kasus ini, Fuad divonis 8 tahun penjara. Namun, hukuman tersebut bertambah menjadi 13 tahun, setelah Fuad mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi.

Fuad Amin kali pertama mendekam di Lapas Sukamiskin, sebelum akhirnya dipindahkan ke Lapas Porong.


Editor : Kastolani Marzuki