Risma Surati Jokowi, Ingin Bangun Pengolahan Limbah B3 di Surabaya

Ihya Ulumuddin ยท Rabu, 17 Oktober 2018 - 17:46 WIB
Risma Surati Jokowi, Ingin Bangun Pengolahan Limbah B3 di Surabaya
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini saat membuka seminar kebijakan regulasi pengelolaan dan dampak limbah B3, Rabu (17/10/2018). (Foto: iNews.id/Ihya Ulumuddin)

SURABAYA, iNews.id - Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengirim surat kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk meminta izin membangun pengolahan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) di Kota Surabaya. Upaya itu terpaksa dilakukan karena keinginan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya membangun tempat pengolahan limbah belum juga ada respons.

Risma mengatakan, pengelolaan limbah B3 harus dilakukan agar tidak menjadi masalah di kemudian hari. "Sebelumnya, saya sudah mengirim surat ke Presiden Joko Widodo untuk pengelolaan limbah B3 tapi belum ada tanggapan. Nanti saya kirim surat lagi ke presiden bersama lampiran hasil seminar hari ini," Kata Risma saat membuka seminar kebijakan regulasi pengelolaan dan dampak limbah B3 bagi kualitas lingkungan hidup di Graha Sawunggaling, Rabu (17/10/2018).

Dia membeberkan, beberapa direktur rumah sakit sempat mengeluhkan persoalan pengelolaan limbah medis. Pemkot bukan tidak mau menyediakan, tetapi memang ada kendala sehingga tidak dapat direalisasikan.

"Bukan kami tidak mau atau tidak punya uang. Tapi kami tidak ingin melawan peraturan yang ada di pemerintah pusat," ujar Risma.

Menurutnya, pengelolaan limbah B3 bukanlah perkara yang mudah dan harus dipikirkan, serta ditangani secara sistematis. Apabila dilakukan secara sembarangan, dampaknya lingkungan bisa hancur. "Kami harus antisipasi dulu karena kalau ada masalah akan jadi tambah berat, meski pun saat ini rumah sakit sudah teriak-teriak," ucapnya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Pemkot Surabaya Eko Agus Supiadi menuturkan, pembuangan limbah B3 tidak boleh sembarangan. Sebab, harus dipikirkan proses penanganan, penimbunan, penyimpanan, pengelolaan dan pembuangan limbah B3. Terutama limbah medis dari rumah sakit.

"Jumlah limbah rumah sakit, puskesmas dan klinik sekitar 8-10 ton per hari. Itu belum limbah B3 dari industri," kata Agus.

Dia berharap hasil seminar dapat menggali masukan dari seluruh stakeholder yang menghasilkan limbah B3. Mulai klinik, puskesmas, industri dan rumah sakit. "Hasil seminar ini akan kami lampiran untuk kemudian diserahkan kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Presiden terkait pengelolaan limbah B3," ujarnya.

Lebih lanjut, dia menuturkan rencana Pemkot Surabaya untuk mengelola limbah B3 akan dilakukan di daerah osowilangon dengan luas sekitar 2,4 hektare dan dipastikan jauh dari pemukiman warga. "Anggaran sudah dimasukan, termasuk biaya amdal-nya," tuturnya.

Sementara itu, Kepala Sub Direktotat Penimbun dan Dumping Limbah B3 Euis Ekawati menambahkan, jarak ideal pembangunan pengelolaan limbah B3 dengan pemukiman warga tergantung dari masing-masing perusahaan, rumah sakit dan industri. "Kalau rumah sakit jaraknya 50 meter sedangkan jasa sekitar 300-400 meter," ujar Euis.

Dia menilai, keinginan Pemkot Surabaya melakukan pengelolaan limbah B3 sangat memungkinkan. Kendati demikian, dirinya mengingatkan pemkot agar memperhatikan lokasi lalu tujuan pengelolahan limbah B3 untuk pengolahan, penimbunan atau pemanfaatan.


Editor : Donald Karouw