Rektor Unipar Jember Mengundurkan Diri, Diduga karena Lecehkan dan Cium Dosen

Avirista Midaada ยท Sabtu, 19 Juni 2021 - 19:29:00 WIB
Rektor Unipar Jember Mengundurkan Diri, Diduga karena Lecehkan dan Cium Dosen
Ilustrasi pelecehan seksual. (Foto: Istimewa)

JEMBER, iNews.id - Rektor Universitas IKIP PGRI Argopuro (Unipar) berinisial RS, mengundurkan diri dari jabatannya. Pengunduran diri itu diduga karena RS tersangkut dugaan pelecehan seksual kepada dosen Unipar. 

Setelah mengundurkan diri per 17 Juni 2021, RS kemudian digantikan oleh Budi Hadi Prayogo yang secara resmi telah menjabat rektor per tanggal 18 Juni 2021. 

Informasi diperoleh, diduga RS mencium salah seorang dosen perempuan berinisial H, saat berada di sebuah hotel di kawasan Tretes, Kabupaten Pasuruan.  Pelecehan seksual itu diperkirakan terjadi antara 4 - 5 Juni 2021 lalu. Saat itu ada kegiatan di luar kota menuju Tretes, Kabupaten Pasuruan untuk menghadiri acara Diklat dari PGRI Jawa Timur.

Korban diduga mengalami pelecehan saat satu mobil dengan terduga pelaku. Dalam kendaraan tersebut terdapat dua orang lain yang menyaksikan sekaligus mendengar kejadian. Keduanya yakni sopir dan seorang lelaki sesama staf pengajar Unipar seperti halnya korban. Pelecehan disebut tidak hanya berhenti di situ. Selama acara berlangsung, diduga RS bahkan mencium dosen saat berada di sebuah hotel di Tretes, Pasuruan.

Kepala Biro III Unipar, Dr Ahmad Zaki Emyus mengatakan, RS mengundurkan diri sebagai rektor setelah kasus dugaan pelecehan seksual yang dialami dosen itu mencuat. 

"Jadi beliau (mantan rektor Unipar) menanggalkan jabatannya, agar kampus tidak turut terseret ke dalam masalah dugaan tindakan (pelecehan seksual) tersebut. Jadi pada dasarnya, apa yang dilakukan RS merupakan tanggung jawab pribadi, nggak ada kaitannya dengan institusi," katanya, Sabtu (19/6/2021).

Zaki menjelaskan, terkait pengunduran diri rektor itu, sebelumnya dibahas saat pertemuan di lingkungan kampus. Dari pertemuan tersebut sudah mendapatkan beberapa hasil putusan. Ada beberapa peraturan pokok kepegawaian pada pasal 20 ayat 1, 2, dan 3 yang melatarbelakangi keputusan yang diambil. 

"Peraturan pokok kepegawaian itu secara jelas menyebutkan bahwa bagi para pejabat yang melakukan pelanggaran berat, maka harus mengundurkan diri," ucapnya.

Editor : Maria Christina

Halaman : 1 2

Bagikan Artikel: