Perilaku Penyerang Polsek Wonokromo Berubah usai Merantau dan Ikut Pengajian

Kastolani ยท Senin, 19 Agustus 2019 - 01:00 WIB
Perilaku Penyerang Polsek Wonokromo Berubah usai Merantau dan Ikut Pengajian
Pelaku penyerangan Polsek Wonokromo, Surabaya ditangkap. (Foto: istimewa)

JAKARTA, iNews.id – Ponpes Tarbiyatul Mu’allimien al islamiyah (TMI) Al Amin, Prenduan, Sumenep, Madura, Jatim menyatakan keprihatinannya atas aksi penyerangan Polsek Wonokromo, Surabaya, Jatim yang dilakukan Imam Mustofa (30).

Tak hanya menyerat nama besar ponpes yang mengajarkan Islam moderat, aksi radikalisme yang dilakukan pelaku juga merusak nilai-nilai dasar agama dan bertentangan dengan hukum.

Humas Ponpes TMI Al Amin, Hamzah Arsa mengatakan, jejak Imam Mustofa selama menimba ilmu di Ponpes TMI Al Amin sangat baik. Pelaku juga dikenal taat dan tidak pernah melanggar disiplin yang diterapkan ponpes.

“Waktu di pondok tidak ada yang aneh, baik taat tidak pernah melanggar disiplin pondok. Tamat tepat waktu. Dia juga beraktivitas sebagaimana santri lain,” katanya dikonfirmasi iNews.id, Minggu (18/8/2019).

Dia menuturkan, setelah lulus dari Ponpes Al Amin, Imam Mustofa mengabdikan ilmunya ke masyarakat di kampung halamannya. Selama masa pengabdian, kata dia, Imam Mustofa juga tidak memiliki gelagat aneh.

Menurut Hamzah, perilaku aneh Imam Mustofa mulai muncul setelah merantau ke Jakarta tepatnya pada 2014 lalu. Selama satu tahun merantau di Ibu Kota, pelaku kemudian kembali ke Madura dan merantau lagi ke Surabaya.

“Kami konfirmasi ke adiknya, kebetulan jadi ustazah juga di sini (Ponpes Al Amin). Katanya, tidak ada perubahan karakter setelah lulus. Sejak 2007 sampai 2014 tidak ada perubahan perilaku sama sekali, masih sama seperti santri. Baru setelah merantau ke Jakarta, mulai ada keanehan,” katanya.

Keanehan peilaku Imam Mustofa, kata Hamzah, semakin terlihat ketika menikah dengan perempuan bercadar dan bergabung kelompok pengajian.

“Perubahan (perilaku) itu waktu ikut pengajian. Ini yang perlu ditelusuri dan penampilannya mulai berbeda. Istrinya mulai pakai cadar. Imam juga sering mengingatkan orang tuanya yang macam-macam. Itu juga membuat orang tuanya sering mengingatkan jangan terjerumus ke radikalisme,” paparnya.

Hamzah hanya berharap dan berdoa pelaku mendapat hidayah dan kembali ke ajaran Islam yang benar tanpa melakukan kekerasan atau tindakan yang melanggar hukum maupun agama. “Kita hanya berdoa lah mudah-mudahan anak kita itu (pelaku) diberi hidayah,” ujarnya.

Menurut Hamzah, pendidikan yang ditanamkan Ponpes TMI Al Amin ke para santri selalu menekankan Islam wasathan (islam moderat) dan tidak pernah mengajarkan kekerasan atau radikalisme.

“Kalo kita itu prinsip dari awal adalah tidak berdiri ke mana-mana. Tidak ke kanan atau kiri. Pendidikan kita moderat, mengutamakan washatiyah. Kami konsisten dengan sistem pendidikan dan kurikulum yang kita tempuh,” katanya.

Ponpes TMI Al Amin, kata dia, juga akan melakukan intrsopeksi diri dan mengambil hikmah atas insiden yang dilakukan pelaku. Hamzah juga menepis kabar yang beredar di media sosial WhattsApp (WA) terkait kejadian itu yang merugikan Ponpes Al Amin.

“Kita akan lakukan internalisasi dan sosialisasi ke santri-santri bahwa tindakan tersebut (radikalisme) itu tidak dibenarkan dan membahayakan. Hindari tindakan-tindakan tersebut, apa pun dalilhnya tidak dibenarkan. Kita ambil banyak hikmah dari kejadian itu,” katanya.


Editor : Kastolani Marzuki