Reaksi Ponpes Al Amin soal Alumninya Jadi Pelaku Penyerangan Polsek Wonokromo

Kastolani ยท Minggu, 18 Agustus 2019 - 21:58 WIB
Reaksi Ponpes Al Amin soal Alumninya Jadi Pelaku Penyerangan Polsek Wonokromo
Polsek Wonokromo, Surabaya, dijaga ketat setelah aksi penyerangan yang dilakukan pria tak dikenal. (Foto: iNews.id/Hari Tambayong)

JAKARTA, iNews.id – Aksi penyerangan Polsek Wonokromo, Surabaya, Jatim yang dilakukan Imam Mustofa (30) menyerat nama besar Pondok Pesantren (Ponpes) Tarbiyatul Mu’allimien al Islamiyah (TMI) Al Amin, Prenduan, Sumenep, Madura. Hal itu setelah pelaku diketahui alumnus ponpes terbesar di Sumenep tersebut.

Humas Ponpes TMI Al Amin, Hamzah Arsa mengakui Imam Mustofa merupakan alumnus Ponpes Al Amin. “Ya, benar dia alumni Al Amin tahun 2007. Dia empat tahun jadi santri di Al Amin,” katanya dikonfirmasi iNews.id, Minggu (18/8/2019).

Hamzah menuturkan, selama empat tahun menimba ilmu di Ponpes TMI Al Amin tidak ada gelagat atau perilaku aneh pada diri Imam Mustofa. Pelaku juga dikenal taat dan tidak pernah melanggar disiplin yang diterapkan ponpes. “Waktu di pondok tidak ada yang aneh, baik taat tidak pernah melanggar disiplin pondok. Tamat tepat waktu. Dia juga beraktivitas sebagaimana santri lain,” ujarnya.

Menyikapi kejadian itu, Hamzah mengaku prihatin karena tidak pernah menduga pelaku akan bertindak melawan hukum dan melanggar norma-norma agama, serta kemanusiaan. “Pertama, kami prihatin  dan kecewa sesuatu yang tak pernah kita duga terjadi. Kami anggap ini musibah pondok secara khusus,” ucapnya.

Hamzah hanya berharap dan berdoa pelaku mendapat hidayah dan kembali ke ajaran Islam yang benar tanpa melakukan kekerasan atau tindakan yang melanggar hukum maupun agama. “Kita hanya berdoa lah mudah-mudahan anak kita itu (pelaku) diberi hidayah,” ujarnya.

Menurut Hamzah, pendidikan yang ditanamkan Ponpes TMI Al Amin ke para santri selalu menekankan Islam wasathan (islam moderat) dan tidak pernah mengajarkan kekerasan atau radikalisme. “Kalo kita itu prinsip dari awal adalah tidak berdiri ke mana-mana. Tidak ke kanan atau kiri. Pendidikan kita moderat, mengutamakan washatiyah. Kami konsisten dengan sistem pendidikan dan kurikulum yang kita tempuh,” katanya.

Ponpes TMI Al Amin, kata dia, juga akan melakukan intrsopeksi diri dan mengambil hikmah atas insiden yang dilakukan pelaku. Hamzah juga menepis kabar yang beredar di media sosial WhattsApp (WA) terkait kejadian itu yang merugikan Ponpes Al Amin.

“Kita akan lakukan internalisasi dan sosialisasi ke santri-santri bahwa tindakan tersebut (radikalisme) itu tidak dibenarkan dan membahayakan. Hindari tindakan-tindakan tersebut, apa pun dalilhnya tidak dibenarkan. Kita ambil banyak hikmah dari kejadian itu,” katanya.

Kasus penyerangan kantor Polsek Wonokromo akhirnya terungkap. Pelaku bernama Imam Mustofa (30), warga Kabupaten Sumenep Madura, Jawa Timur (Jatim).

Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Frans Barung Mangera mengatakan, pelaku tercatat sebagai alumni Ponpes Al Amin, Perenduan Sumenep.

Barung mengatakan, ajaran Islam radikal ini juga didapat pelaku dari internet. Selama ini, yang bersangkutan kerap membaca literatur tentang ajaran jihad.

"Dia mengaku berguru di Internet, melalui konten-konten yang diajarkan seorang ustaz," ujar dia.

Sebelumnya, anggota Polsek Wonokromo diserang pria tak dikenal. Korban atas nama Aiptu Agus, anggota polisi yang bertugas di SPKT Polsek Wonokromo Surabaya.


Editor : Kastolani Marzuki