ISU SPESIAL KDRT

Pandemi Covid-19 Membuat Semakin Banyak Perempuan Jadi Korban KDRT

Bima Setiyadi · Selasa, 30 November 2021 - 14:42:00 WIB
Pandemi Covid-19 Membuat Semakin Banyak Perempuan Jadi Korban KDRT
Ilustrasi KDRT (iNews.id)

JAKARTA, iNews.id - Pandemi Covid-19 selama hampir dua tahun terakhir menyebabkan sekitar 4,256 juta kasus di Indonesia dan 143.819 orang meninggal dunia. Selama pandemi pula, angka kekerasan dalam rumah tanggga (KDRT) terhadap perempuan meningkat.  

Untuk mencegah penyebaran Covid-19, pemerintah melakukan pembatasan sosial, termasuk mengharuskan masyarakat untuk lebih banyak beraktivitas di rumah. Ternyata kondisi ini menyebabkan kasus KDRT menjadi lebih sering terjadi dan makin berbahaya pula.

Berdasarkan data Catatan Tahunan (CATAHU) Komnas Perempuan yang tersaji dalam laman komnasperempuan.go.id, pada 2017 dan 2018, tindakan KDRT khususnya kekerasan terhadap istri menempati peringkat pertama, yaitu 5.784 dan 5.167 kasus pada 2018. Sama seperti pada tahun sebelumnya, pada 2019 dan 2020 KDRT terhadap istri juga menempati peringkat pertama, yakni 5.114 kasus pada 2019 dan 6.555 kasus pada 2020.

Peningkatan kasus bisa terlihat dengan menggunakan data 2018-2020, saat Covid-19 mulai masuk ke Indonesia pada awal 2020. Antara 2018-2019, hanya terdapat pertambahan kasus sebanyak 53 kasus sedangkan pada 2019-2020 peningkatannya sebanyak 1.441 kasus baru. Dari data tersebut, dapat terlihat peningkatan KDRT yang signifikan akibat pandemi Covid-19.

Peningkatan kasus kekerasan terhadap perempuan selama masa
pandemi ini juga sejalan dengan temuan dari beberapa pihak. Salah satunya termasuk survei Komnas Perempuan yang menemukan ada peningkatan kekerasan terhadap perempuan. Hal ini karena semakin banyak waktu berkumpul di rumah yang dikuatkan budaya patriarki yang menempatkan perempuan untuk menjadi penanggung jawab rumah tangga dan pengasuhan. 

Tugas-tugas itulah yang menjadikan perempuan stres dan kelelahan dan kemudian mendapatkan KDRT. Selain itu, pandemi membuat banyak pekerja laki-laki dihentikan dari pekerjaannya sehingga mengalami krisis maskulinitas. Ironisnya, upaya pengembalian krisis itu dilakukan dengan melakukan KDRT.

Deputi Perlindungan Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), Nahar menjelaskan, di luar persoalan kesehatan, pandemi Covid-19 meningkatkan risiko kekerasan secara emosional, fisik, dan seksual. Hal ini kerap terjadi pada anggota keluarga yang menjadi sasaran pelaku, termasuk ibu dan anak.

Editor : Maria Christina

Halaman : 1 2

Bagikan Artikel: