Kisah SK Trimurti Tolak Mengerek Merah Putih dan Pilih Sebarkan Kabar Proklamasi Kemerdekaan

Solichan Arif · Rabu, 10 Agustus 2022 - 03:24:00 WIB
 Kisah SK Trimurti Tolak Mengerek Merah Putih dan Pilih Sebarkan Kabar Proklamasi Kemerdekaan
SK Trimurti atau Surastri Karma Trimurti turut menyaksikan saat Soekarno-Hatta mengumandangkan Proklamasi Kemerdekaan. (Foto : Ist)

JAKARTA, iNews.id - SK Trimurti atau Surastri Karma Trimurti turut menyaksikan saat Soekarno-Hatta mengumandangkan Proklamasi Kemerdekaan RI  17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta. Pembacaan teks Proklamasi Kemerdekaan di lingkungan rumah Bung Karno itu didahului dengan upacara kemerdekaan. 

Namun upacara berlangsung tanpa persiapan. Termasuk siapa yang ditunjuk sebagai petugas pengerek bendera, tidak dipersiapkan.

Sebelum upacara dimulai, di antara sesama pejuang tiba-tiba meminta SK Trimurti untuk menjadi salah satu pengerek bendera. Dia reflek menolak karena merasa tidak cukup berjasa menerima kehormatan itu.

Sebagai gantinya ia menunjuk Latief Hendraningrat, tentara PETA. Bagi SK Trimurti, pejuang Latief yang banyak bertempur di lapangan, lebih layak menerima kehormatan sebagai pengerek bendera pusaka.  

“Ndak mau, lebih baik saudara Latief (Latief Hendraningrat) saja. Dia kan dari PETA,” kata SK Trimurti seperti dikutip dari buku SK Trimurti Pejuang Perempuan Indonesia.

SK Trimurti merupakan aktivis pergerakan dan sekaligus jurnalis perempuan atau wartawati di masa kemerdekaan. Trimurti yang berasal dari keluarga priyayi Jawa  lahir 11 Mei 1912 di Desa Sawahan, Boyolali, Jawa Tengah.

Ayahnya bernama R. Ng. Salim Banjaransari Mangunsuromo dan ibunya bernama R.A. Saparinten Mangunbisono. Sebagai anak Asisten Wedana, SK Trimurti mengenyam pendidikan sejak kecil. Setelah lulus Tweede Inlandsche School (TIS), sang ayah memintanya melanjutkan ke Meisjes Normaal School (MNS), yakni sekolah guru wanita selama empat tahun.

Dia sempat mengikuti praktik latihan sebagai guru Ongko Loro di Alun-alun Kidul Kota Solo dan berlanjut mengajar murid khusus perempuan di Banyumas. SK Trimurti pertama kali mengenal mesin ketik dan kelak menjadi perangkatnya sebagai wartawan, saat aktif di perkumpulan koperasi.  

Dia juga terlibat aktif dalam rapat-rapat yang diadakan Budi Utomo (BU) cabang Banyumas. Sejak mengenal sepak terjang Bung Karno melalui bacaan dan radio SK Trimurti sangat mengagumi Bung Karno.

Pada kisaran bulan Agustus hingga September 1932, ia pertama kali melihat sekaligus mendengar langsung pidato Bung Karno yang tengah mengadakan rapat umum di Purwokerto, Jawa Tengah.

Editor : Ainun Najib

Halaman : 1 2 3

Bagikan Artikel: