get app
inews
Aa Text
Read Next : Fakta di Balik Bentrok 2 Desa di Halmahera Tengah, Ini Kata Kapolda Maluku Utara

Kisah Kehancuran Majapahit akibat Konflik Politik di Internal Kerajaan

Selasa, 14 Desember 2021 - 09:55:00 WIB
Kisah Kehancuran Majapahit akibat Konflik Politik di Internal Kerajaan
Ilustrasi Kerajaan Majapahit. (Foto: Istimewa)

SURABAYA, iNews.id - Konflik internal membuat kerajaan Majapahit hancur. Kejayaan Majapahit di era Prabu Hayam Wuruk musnah dan berakhir tragis di tangan para penerusnya. 

Cerita pahit itu terjadi setelah masa kepemimpinan Bhre Wengker. Saat itu Majapahit dipimpin oleh Bhre Pandalanas yang disebut pada kitab Pararaton atau Dyah Suprabhawa. Kitab itu terdapat di Prasasti Waringin Pitu, sebagaimana dikutip dari buku "Hitam Putih Mahapatih Gajah Mada" tulisan Sri Wintala Achmad. 

Ini bukan kali pertama pergolakan di internal Kerajaan Majapahit terjadi. Sebelumnya, Raja Dyah Kertawijaya juga turun sesudah dikudeta dan dibunuh oleh Rasajawardhana atau Bhre Matahun. 

Seorang Raja Majapahit VII yang merupakan suami dari Indudewia atau Bhre Lasem dan memerintah pada tahun 1451-1453.  Sepeninggal Rajasawardhana, Majapahit sempat mengalami kekosongan kekuasaan antara tahun 1453 sampai 1456. Hal ini menyebabkan masyarakat seperti lidi yang berserakan kehilangan suhnya. 

Kekosongan ini berakhir saat Bhre Wengker naik tahta pada 1456 dan menjadi raja Majapahit kesembilan yang bergelar Girishawardhana Dyah Suryawikrama. Tetapi, di masa pemerintahan Suryawikrama Majapahit mengalami ujian bencana alam gempa bumi dan gunung meletus. 

Selanjutnya, dikisahkan semasa pemerintahan Bhre Pandalanas atau Dyah Suprabhawa yang bergelar Sri Adi Suprabhawa Singhawikramawardhana Giripati Pasutabhupati Ketubhuta terjadi kemelut politik. Dia terpaksa melarikan diri dari kekuasaannya sebagai raja. Dia melarikan diri meninggalkan tahtanya sebagai raja sebagaimana dikisahkan pada Prasasti Jiyu, karena ketidakberdayaan menghadapi kudeta dsri Bhre Kertabhumi. 

Situasi ini dimanfaatkan Bhre Kertabhumi untuk menduduki posisi singgasana kekuasaan raja Majapahit. Bhre Kertabhumi naik sebagai raja Majapahit terakhir yang berpusat di ibu kota Majakerta. Dia berhasil mengendalikan dan memimpin Majapahit sejak 1474 hingga 1478 Masehi. 

Namun tak berselang lama, Girindrawardhana Dyah Ranawijaya, raja Majapahit yang beribu kota di Dhaha, yang merupakan putra dari Dyah Suprabhawa, raja Majapahit kesepuluh, melakukan penyerangan ke Majakerta. Konon ibu kota Majakerta berhasil dikuasai Girindrawardhana Dyah Ranawijaya. Bahkan ibu kotanya berhasil dibakar dan dibumihanguskan. 

Bhre Kertabhumi yang saat itu menjabat raja Majapahit di Majakerta pun menjadi korban. Dia dilengserkan paksa dan dibunuh oleh Ranawijaya, raja Majapahit yang bergelar Sri Wilwatika Jenggala Kadiri. Hasilnya eksistensi Majapahit sebagai kerajaan yang pernah berjaya di Nusantara pun berakhir dengan tragis. 

Berikutnya, kekuasaan Girindrawardhana Dyah Ranawijaya yang menguasai Majapahit pun akhirnya berhasil dikalahkan oleh pasukan Kesultanan Demak di bawah pimpinan Sultan Trenggono, pada 1527. Pada saat itulah sejarah Kerajaan Majapahit yang pernah berjaya semasa pemerintahan Hayam Wuruk itu pun berakhir. 

Editor: Ihya Ulumuddin

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya

iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut