Hukum Kebiri Dalam Syariat Islam

Kastolani · Kamis, 11 Agustus 2022 - 08:30:00 WIB
Hukum Kebiri Dalam Syariat Islam
Ilustrasi hukuman kebiri. Dalam Syariat Islam tidak dikenal dengan istilah hukum kebiri dan mengharamkannya (Foto: Ist)

JAKARTA, iNews.id - Pemerintah telah mengesahkan hukuman kebiri bagi predator seks sebagai efek jera terhadap pelaku dan mencegah terjadinya kekerasan seksual anak. Lalu, bagaimana hukum kebiri dalam syariat Islam?

Kebiri disebut juga pengebirian atau kastrasi merupakan tindakan bedah dan atau menggunakan bahan kimia yang bertujuan untuk menghilangkan fungsi testis pada jantan atau fungsi ovarium pada betina. Pengebirian dapat dilakukan baik pada hewan ataupun manusia.

Hukuman kebiri telah ditetapkan pemerintah Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 70 Tahun 2020 tentang Tata Cara Pelaksanaan Tindakan Kebiri Kimia, Pemasangan Alat Pendeteksi Elektronik, Rehabilitasi, dan Pengumuman Identitas Pelaku Kekerasan Seksual terhadap Anak. PP itu diterbitkan untuk mengatasi kekerasan seksual terhadap anak, memberi efek jera terhadap pelaku, dan mencegah terjadinya kekerasan seksual terhadap anak.

PP itu diterbitkan berdasarkan Pasal 81A ayat (4) dan Pasal 82A ayat (3) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2OL6 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2OO2 tentang Perlindungan Anak menjadi Undang-Undang.

Hukum kebiri dalam syariat Islam

Meski pemerintah telah mengeluarkan peraturan mengenai hukum kebiri, namun dalam pandangan Islam tidak ada istilah hukuman kebiri bagi pelaku kekerasan seksual. 

Pendiri Rumah Fiqih Indonesia, Ustaz Ahmad Sarwat MA seperti dilansir dari laman Rumah Fiqih menjelaskan, hukum kebiri dalam Syariat Islam merupakan tindakan  yang pada dasarnya diharamkan dalam syariah.

Ada banyak hadits yang mengharamkan tindakan pengebirian pada manusia, di antaranya hadits dari Ibnu Mas'ud radhiyallahuanhu berikut ini :

كُنَّا نَغْزُو مَعَ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَيْسَ لَنَا شَيْءٌ ، فَقُلْنَا : أَلاَ نَسْتَخْصِي ؟ فَنَهَانَا عَنْ ذَلِكَ

Ibnu Mas'ud radhiyallahuanhu  berkata,"Kami dulu pernah berperang bersama Rasulullah sementara pada kami tidak ada isteri–isteri. Kami berkat :”Wahai Rasulullah bolehkah kami melakukan pengebirian ?” Maka beliau melarang kami untuk melakukannya,” (HR. Bukhari).

Editor : Kastolani Marzuki

Halaman : 1 2

Bagikan Artikel: