Hanura Berharap Khofifah Pilih Ipong Jadi Pasangannya
SURABAYA, iNews.id – Calon pendamping Khofifah Indar Parawansa di Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jatim telah mengerucut satu nama. Namun, siapa identitas calon tersebut masih menjadi teka-teki. Meskipun Bupati Trenggalek Emil Dardak sempat mengemuka, belakangan Bupati Ponorogo Ipong Muchlisoni mencuri perhatian beberapa partai pengusung.
Setelah Partai NasDem, kini Partai Hanura juga menginginkan Bupati Ponorogo itu dipilih menjadi wakil Khofifah. DPD Hanura Jatim memandang Ipong lebih cocok dipilih karena memiliki pengalaman berpolitik.
Sekretaris DPD Partai Hanura Jatim, Warsito menegaskan, semula DPD Hanura memang menyerahkan sepenuhnya calon wakil kepada Khofifah. Namun, Warsito akan bergembira bila calon yang dipilih sosok yang diinginkan partai.
“Sebenarnya kami menginginkan Pak Kelana Aprilianto (Ketua DPD Hanura Jatim). Namun jika partai koalisi dan Bu Khofifah menghendaki Pak Ipong, apa boleh buat. Tentu kita tidak bisa memaksakan kehendak. Toh, Pak Ipong cukup bagus dan melihat pengalamannya di politik. Saya optimis Pak Ipong cocok menjadi pendamping KIP,” kata Warsito, Selasa (21/11/2017).
Terkait Partai Demokrat yang memaksakan Bupati Trenggalek Emil Dardak sebagai pendamping Khofifah, Warsito tidak bisa membenarkannya. Dalam sebuah koalisi, mestinya tidak ada lagi ego sektoral. Partai dengan kursi banyak tidak lantas mendominasi, begitu juga sebaliknya.
“Terpenting adalah bagaimana mengusung calon yang dikehendaki oleh semua partai koalisi. Lebih utama lagi dikehendaki oleh Bu Khofifah. Maka, tidak semestinya Partai Partai Demokrat memaksakan kehendaknya,” kata Warsito.
Warsito tidak memungkiri Emil adalah sosok muda potensial. Namun, bagi dia, pengalaman Emil masih jauh di bawah Ipong, terutama untuk urusan politik dan birokrasi. “Untuk kedekatan dengan masyarakat dan elite partai misalnya, masih kalah dengan Ipong,” ujarnya.
Pernyataan ini disampaikan Warsito menyusul laporan warga terhadap Emil di Polda Jatim beberapa hari lalu. Saat itu. warga mengadukan dugaan korupsi di instansi yang dipimpin Emil. “Tuduhan itu benar bisa benar, bisa tidak. Namun, gugatan ini menunjukkan bahwa Emil tidak dekat dengan masyarakat,” pungkasnya.
Editor: Maria Christina