Cerita Penemuan Struktur Candi Kerajaan Singasari saat Bangun Masjid Tertua di Malang Raya

Avirista Midaada · Minggu, 10 April 2022 - 13:07:00 WIB
Cerita Penemuan Struktur Candi Kerajaan Singasari saat Bangun Masjid Tertua di Malang Raya
Masjid At Thohiriyah di Bungkuk, Kecamatan Singosari (Foto: iNews/Avirista Midaada)

MALANG, iNews.id - Pembangunan Masjid At Thohiriyah di Bungkuk, Kecamatan Singosari pada rekonstruksi ketiga menemukan sejumlah struktur bangunan batu bata yang diduga peninggalan Kerajaan Singasari. Saat itu rekonstruksi Masjid At Thohiriyah yang menjadi masjid tertua di Malang Raya dilakukan demi menambah kapasitas masjid.

Penasehat Takmir Masjid At Thohiriyah KH Moensif Nachrawi mengungkapkan, rekonstruksi ketiga masjid tertua di Malang Raya yang mempengaruhi penyebaran agama Islam dilakukan pada 2008. Masjid dirombak total dengan rekonstruksi diubah menjadi dua lantai demi menampung jemaah lebih banyak dan lebih beraksen modern. 

"Masjid dibongkar total pada 2008, 14 tahun lalu yang lalu karena sudah nggak muat lagi, nggak nampung jemaahnya karena makin lama makin besar. Masjidnya dijadikan lantai dua dengan 41 pondasi, yang dibikin, satu pondasi untuk menara yang lebih dalam 3 meter 30 sentimeter, yang lain-lain 2 meter 20 sentimeter," ucap KH Moensif Nachrawi, Minggu (10/4/2022). 

Cerita menarik mengiringi pembangunan Masjid At Thohiriyah atau yang dikenal dengan Masjid Bungkuk. Dimana saat kabar pembangunan rekonstruksi dilakukan ratusan warga baik dari wilayah Masjid Bungkuk dan sekitarnya berbondong-bondong datang. Mereka datang membawa peralatan pertukangan mulai dari cangkul, sekop, hingga linggis. 

"Ternyata dengar orang datang dari mana-mana, untuk ikut beramal ikut macul-macul bikin pondasi, memang sudah ditetapkan 41 lubang dikasih kayu. Jadi orang sudah milih lubang sendiri-sendiri," katanya.

Saat proses pengerjaan pondasi masjid, dikatakan Moensif sejumlah temuan struktur bangunan bata merah kuno terlihat. Penemuan struktur batu bata yang diduga merupakan peninggalan Kerajaan Singasari ini berada di kedalaman tiga meter. 

"Menemukan tembok bata biasa kira-kira tiga meter tingginya sampai di bawah, sampai pondasi bata, bata ukurannya lebar 10 sentimeter, tiap bata dibongkar pakai kuas hancur lagi, dibongkar utuh, mau dikeluarkan hancur lagi, kenapa ini sisa-sisa Kerajaan Singosari yang saya bilang tadi," katanya. 

Sontak saja penemuan rekonstruksi batu bata yang diiga peninggalan candi bangunan era Kerajaan Singasari mengundang kedatangan tim dinas purbakala dan pihak Museum Singhasari. Namun sayang dari beberapa struktur batu bata pada bangunan hampir sebagian besar aus dan tak bisa diselamatkan. 

"Kerajaan Singosari dibangun di abad 12 dan punah di abad 13, kalau saja pagar Ini dibikin di abad 13, artinya apa, sekarang sudah 700-800 tahun iya maklum sudah aus," katanya.

Editor : Nani Suherni

Halaman : 1 2

Bagikan Artikel: