65 Warga Jatim di Natuna Bebas Korona, Dinkes Pastikan Tak Ada Karantina Lanjutan

Ihya' Ulumuddin, Rahmat Ilyasan ยท Jumat, 14 Februari 2020 - 17:26 WIB
65 Warga Jatim di Natuna Bebas Korona, Dinkes Pastikan Tak Ada Karantina Lanjutan
Kepala Dinkes Jatim Herlin Ferliana memastikan 65 warga Jatim yang telah menjalani karantina di Natuna, Kepri, tidak akan menjalani karantina lanjutan lagi setelah tiba di Jatim. (Foto: iNews/Rahmat Ilyasan)

SURABAYA, iNews.id – Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Timur (Jatim) memastikan 65 warga provinsi itu yang akan pulang dari tempat karantina di Pulau Natuna, Kepulauan Riau (Kepri), dalan kondisi sehat. Karena itu, tidak ada lagi karantina lanjutan bagi mereka.

Kepala Dinkes Jatim Herlin Ferliana mengatakan, seluruh warga yang pulang dari Natuna juga telah diberi kartu keterangan sehat dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Kartu itu menegaskan mereka bebas dari virus korona.

“Mereka sudah dinyatakan sehat dan bebas virus korona sehingga tidak ada lagi karantina lanjutan,” kata Herlin, Jumat (14/2/2020).

Meski begitu, pihaknya mengimbau kepada 65 warga Jatim untuk menghindari pusat keramaian terlebih dahulu. Upaya tersebut sebagai antisipasi agar tidak ada gangguan kesehatan bagi mereka. “Agar benar-benar aman, hindari dulu pusat keramaian. Minimal hingga satu bulan ke depan,” katanya.

Herlin juga berpesan kepada 65 warga untuk lebih waspada terhadap kondisi kesehatannya. Bila nanti mengalami gejala demam, sesak napas dan batuk, segera melapor ke fasilitas kesehatan di daerah masing-masing.

Diketahui, sebanyak 238 Warga Negara Indonesia (WNI) yang dibawa pulang dari Wuhan China, telah selesai menjalani karantina selama 14 hari di Pulau Natuna dan akan dipulangkan Sabtu (15/2/2020) besok. Dari jumlah tersebut, 65 orang di antaranya berasal dari Jatim.

Adapun rinciannya, dari Sidoarjo 3 orang, Surabaya 34 orang, Tuban 1 orang, Banyuwangi 1 orang, Bojonegoro 1 orang, Bondowoso 1 orang, Gresik 1 orang, Jember 1 orang, dan Kediri 4 orang. Kemudian, dari Lamongan 2 orang, Lumajang 4 orang, Malang 7 orang, Pamekasan 1 orang, Ponorogo 1 orang, dan Probolinggo 3 orang.


Editor : Maria Christina