LUMAJANG, iNews.id - Ratusan prajurit Artileri Pertahanan Udara (Arhanud) TNI AD mendatangi Desa Pandanwangi, Kecamatan Tempeh, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Rudal canggih dan meriam pun ditembakkan ke musuh dan sasaran.
Rudal-rudal yang ditembakkan itu antara lain Mistral (Atlas dan MPCV), Starstreak jenis Lightweight Multiple Launcher (LML) dan Multi Mission System (MMS). Pasukan Arhanud juga melontarkan meriam kaliber 20 mm Rheinmetal, 23 mm/Zur, 40 mm/L70 dan 57 mm.
Apa yang terjadi?
Serbuan itu merupakan bagian dari Latihan Menembak Senjata Berat (Latbakjatrat) Terintegrasi TA 2021 yang digelar Pussenarhanud Kodiklatad. Latihan yang berlangsung dari 31 Mei-6 Juni 2021 di Lapangan Tembak Air Weapon Range (AWR) Lumajang itu diikuti 425 prajurit dari seluruh Satuan Jajaran Arhanud TNI AD.
Pussenarharud menyatakan, Perang Armenia dan Azerbaijan maupun serangan roket Hamas terhadap Iron Dome Israel cukup memberikan gambaran perang yang terjadi pada saat ini dan masa depan. Pertempuran itu juga seakan menabiskan peribahasa latin Si Vis Pacem Parabellum yang berarti "jika kamu mendambakan perdamaian, maka bersiap-siaplah untuk berperang".
"Perkembangan lingkungan strategis khususnya hakekat ancaman yang menggunakan wahana udara tersebut mengharuskan Arhanud TNI AD untuk senantiasa meningkatkan profesionalismenya,” kata Pussearhanud dalam keterangan tertulis, Rabu (4/6/2021).
Turut hadir pada latihan ini Danpussenif Kodiklatad, Wadankodiklatad, Ir Kodiklatad, Pangdam V/Brawijaya, Kasdam III/Slw, Kasdivif 1/K, Para Dir Kodiklatad, Pejabat Teras Pussenarhanud serta Forkompimda Lumajang serta para tamu undangan. Latihan dipimpin Komandan Pusat Kesenjataan Arhanud Kodiklatad Mayjen TNI Nisan Setiadi.
Latihan bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dan profesionalisme Prajurit Arhanud dalam mengawaki Alutsista Arhanud serta melatihkan kesiapsiagaan dalam menghadapi ancaman udara saat ini. Untuk itu latihan disimulasikan dalam suatu skenario pertempuran baik pada siang maupun malam hari untuk memberikan gambaran kepada prajurit sesuai dengan tugas pokok Arhanud sebagai pengawal udara NKRI.
Komandan Kodiklatad TNI AD Letjen TNI AM Putranto memberikan apresiasi serta kebanggannya terhadap pelaksanaan latihan kali ini. Menurut dia, latihan menembak senjata berat terintegrasi kali ini hasilnya sudah jauh lebih meningkat dibandingkan tahun lalu. Kelebihan latihan saat ini yaitu telah dintegrasikan dengan Kohanudnas TNI AU.
“Pertahanan udara merupakan hal yang paling penting di Indonesia. Kita sudah punya radar dengan kemampuan jangkauan 250 km yang merupakan inisasi atau pengadaan yang digagas dari Bapak Kasad sekarang. Secara bertahap akan terus ditingkatkan kemampuan dan daya jangkauannya untuk mendukung tugas pokok TNI AD," kata Putranto.
Direktur Pembinaan Latihan Pussenarhanud Kolonel Arh Blasius Popylus selaku Komandan Latihan menjelaskan, latihan ini mengerahkan rudal-rudal canggih dan berbagai jenis meriam yang dimiliki satuan Arhanud TNI AD di seluruh Indonesia.
Menurut dia, untuk memberikan gambaran realisme latihan secara utuh tentang fungsi Arhanud maka dilaksanakan integrasi dengan TNI AU khususnya Komando Pertahanan Udara Nasional berupa penggelaran Central Monitoring and Observation Vehicle (CMOV) serta pengerahan 2 pesawat tempur jenis Super Tocano. Keberadaan serta manuver dua pesawat tersebut mampu ditangkap oleh Radar CM 200 (Shikra) dan Radar MCP.
Editor : Zen Teguh
Artikel Terkait