Tragedi pembanataian Banyuwangi oleh ninja. (ilustrasi: sarangdemit)
Ihya Ulumuddin

SURABAYA, iNews.id - Kasus pembantaian kiai dan guru ngaji di Banyuwangi, Jawa Timur (Jatim) tahun 1998 silam masih menjadi misteri. Hingga saat ini kasus pembunuhan yang disebut dilakukan sekelompok ninja itu belum juga terungkap, baik pelaku, dalang maupun motif yang melatarbelakangi. 

Kasus pembantaian itu memang tak berulang, namun memori kelam itu tak kan pernah hilang, terutama bagi keluarga yang menjadi korban. Mereka menjadi yatim, janda bahkan sebatang kara karena ayah, suami, ibu dan orang-orang terdekatnya tewas dibunuh. 

Berdasarkan data pemerintah total terdapat 115 korban tewas di 20 kecamatan dalam tragedi berdarah tersebut. Sementara menurut data tim pencari fakta (TPF) bentukan PBNU, lebih banyak lagi, yakni 143 orang. 

Sebagaimana dikisahkan dalam akun YouTube sarang demit dan Bico Story, kasus pembantian kiai dan guru Ngaji di Banyuwangi awalnya dimulai dari isu dukun santet. Saat itu, orang-orang yang dianggap sebagai dukun santet tiba-tiba didatangi dan dibunuh oleh orang tak dikenal. 

Masyarakat menyebut pelakunya seperti ninja. Selain karena memakai pakaian seba hitam dan bercadar, mereka juga disebut memiliki kesaktian karena bisa muncul dan menghilang begitu saja. Tak hanya itu, mereka juga disebut bisa merangkak di dinding hingga melompat di batang dan dahan pohon kelapa. 

Pada keterangan lain, ninja tersebut juga disebut menggunakan handy talky (HT) setiap kali beroperasi. Mereka kerap beraksi saat malam hari. 

Di tempat sasaran, lampu akan mendadak mati. Setelah itu ninja masuk dan menjalankan aksinya. Pada hitungan menit, korban yang menjadi target ditemukan tewas bersimbah darah dengan berbagai luka. Kondisi korban saat itu ada yang terpotong-potong, patah tulang atau pecah kepalanya.

Salah seorang tokoh Banyuwangi, M Ridwan mengakui cerita itu. Karenanya, masyarakat, terutama di Desa Sarang pada ketakutan saat malam hari. "Sebab, biasanya pada jam itu ninja muncul. Semua pada mengungsi," katanya.

Ridwan mengatakan, dirinya juga termasuk yang pernah menjadi sasaran. Dia menceritakan, bagaimana saat malam hari di atap rumahnya tiba-tiba muncul cuara orang berjalan. "Tapi pas dilihat tidak ada apa-apa. Lalu muncul lagi di atas pohoon kelapa. Pokoknya mencekam sekali," ujarnya. 

Menurut beberapa catatan, pembunuhan pertama kali terjadi pada Februari 1998. Namun, pada bulan berikutnya korban yang tewas justru bertambah banyak. Ironisnya, mereka yang tewas ternyata bukan hanya orang-orang yang disebut memiliki ilmu hitam atau santet, tetapi justru para kiai dan guru ngaji. 

Pasacekejadian itu, Bupati Banyuwangi Purnomo Sigit, kala itu mengeluarkan radiogram. Isinya menyerukan kepada aparat pemerintahan untuk mendata dan melakukan pengamanan terhadap beberapa tokoh, terutama kiai dan guru ngaji. 

Namun, yang terjadi justru sebaliknya, pembantaian justru semakin brutal. Setiap hari korban yang tewas jusru bertambah banyak, antara dua hingga sembilan orang. Beberapa di antara mereka adalah tokoh-tokoh yang sempat masuk dalam pendataan.  

Itu sebabnya, Purnomo Sigit kala itu banyak mendapat protes. Bahkan, sekelompok masyarakat juga meminta kepada bupati untuk mundur dari jabatannya. Sebab, informasinya, radiogram bupati itu justru menjadi petunjuk bagi para ninja untuk mendatangi target dan melakukan pembantaian.

Santri Disenjatai Bambu Kuning

Pascaperistiwa itu, situasi semakin genting. Sebab, korban terus berjatuhan, tanpa bisa dikendalikan. 

Khawatir, akan banyak kiai yang menjadi korban, sejumlah pesantren pun menghimpun kekuatan. Mereka menggembleng para santri dengan ilmu kanuragan. Selain itu, mereka juga dipersenjatai dengan bambu kuning yang telah diberi doa. Tujuannya agar mereka siap sewaktu-waktu menghadapi ninja yang datang. 

Selain perlawanan fisik, para santri juga diajak untuk melakukan perlawanan batin dengan cara mengamalkan sejumlah bacaan doa selepas salat magrib dan subuh. Tujuannya, mereka terhindar dari serangan ninja yang membabi buta. 

Upaya para santri ini pun diikuti oleh masyarakat. Mereka berbondong-bondong mencari bambu kuning, lalu membawanya kepada kiai yang dianggap alim untuk didoai. "Waktu itu, tetangganya saya banyak yang ikut. Saya pernah diajak, tapi tidak mau. Saya pasrah saja pada Allah," kata Ridwan menceritakan. 

Ridwan mengatakan, pada perlawanan itu, ada beberapa ninja yang berhasil ditangkap warga. Mereka selanjutnya dipukuli, termasuk diseret dengan mobil dan dibakar. 

Ridwan juga menceritakan, bersamaan dengan fenomena ninja, di Banyuwangi waktu itu juga mendadak banyak orang gila berkeliaran di jalan. Bahkan, banyak di antara mereka yang juga ditangkap warga dan dihakimi hingga tewas. Sebab, mereka dianggap sebagai ninja yang menyamar.

Tak lama berselang, fenomena ninja di Banyuwangi itu pun reda dan hilang. Anehnya, fenomena orang gila pun ikut menghilang begitu saja.

Hingga saat ini kisah kelam tragedi Ninja Banyuwangi masih menjadi misteri. Tidak diketahui, siapa dalang dibalik pembantaian dukun santet, kiai hingga guru ngaji. 

PBNU melalui tim pencari fakta (TPF) sempat berusaha mengungkap fakta tersebut dengan meminta keterangan para keluarga korban. Namun, upaya tersebut terhalang. Sebab, mereka menolak memberi keterangan dan hanya meminta nama baik keluarganya dipulihkan. Tidak dicap sebagai dukun santet.


Editor : Ihya Ulumuddin

BERITA TERKAIT