Potret Sultanah Safiatuddin. (TeproWikipedia)
Avirista Midaada

SURABAYA, iNews.id - Jauh sebelum era Imam Bonjol dan Pangeran Diponegoro, nama Sultanah Safiatuddin sudah lebih dulu berjuang melawan Belanda. Berdasarkan catatan sejarah, Sultanah Safiatuddin juga menjadi perempuan pertama di Aceh Darussalam yang diangkat menjadi pemimpin di kesultanan.

Sultanah Safiatuddin merupakan putri tertua dari Sultan Iskandar Muda, yang pernah menjadi raja di Kesultanan Aceh Darussalam. Dia memiliki gelar Paduka Sri Sultanah Ratu Safiatuddin Tajul Alam Syah Johan Berdaulat Zillu Ilahi fi'I Alam. Sultanah Safiatuddin naik takhta menjadi penguasa di Kesultanan Aceh Darussalam usai suaminya Sultan Iskandar Tsani wafat.

Namun sebelum naik takhta menjadi raja, perempuan bernama asli Putri Sri Alam ini dikisahkan banyak mendapat pertentangan dari para ulama. Dikutip dari "Perempuan - Perempuan Tangguh Penguasa Tanah Jawa" dari Krishna Bayu Adji dan Sri Wintala Achmad, banyak ulama dan wujudiah yang tak setuju bila perempuan menjadi pemimpin dengan alasan-alasan tertentu. 

Namun, karena setelah Sultan Iskandar Tsani wafat sangat sulit untuk mencari raja laki-laki yang masih berhubungan dengan keluarga dekat. Akhirnya seorang ulama besar, Nurudin ar-Raniri menengahi pertentangan di kalangan kaum ulama. Singkat cerita, usulan Nuruddin ar-Raniri diterima sehingga Sultanah Safiatuddin menjadi raja. 

Selama memerintah selama 35 tahun, Sultanah Safiatuddin membentuk barisan perempuan pengawal istana yang turut bertempur di dalam Perang Malaka pada tahun 1639. Sultanah Safiatuddin juga meneruskan tradisi pemberian tanah kepada pahlawan-pahlawan perang sebagai hadiah.

Dia juga dikenal sebagai sosok yang pintar dan aktif mengembangkan ilmu pengetahuan. Selain bahasa Aceh dan Melayu, sosok Sultanah Safiatuddin juga menguasai empat bahasa lain yakni Bahasa Arab, Persia, Spanyol, dan Urdu. 

Di masa pemerintahannya, ilmu dan kesusastraan berkembang pesat, sehingga di masa itu lahirlah karya-karya besar. Sultanah Safiatuddin juga berhasil menampik usah-usaha Belanda untuk menempatkan diri di daerah Aceh. Bahkan VOC pun tak berhasil memperoleh komoditi atas perdagangan timah dan komoditi lainnya. 

Tak hanya itu, ia juga membuat peraturan untuk meningkatkan kedudukan kaum perempuan, sehingga saat itu tercipta keseteraan gender dan perlindungan kepada perempuan begitu tinggi. Salah satu aturan yang dibuat yakni Cap Sikureung, atau cap sembilan yaitu stempel sah Kesultanan Aceh Darussalam. 

Sang perempuan pertama penguasa Kesultanan Aceh Darussalam ini pun wafat pada 23 Oktober 1675. Sebagai pengganti raja yang bukan laki-laki, Sultanah Safiatuddin mendapat gelar Sri Ratu Naqiatuddin Nurul Alam.


Editor : Ihya Ulumuddin

BERITA TERKAIT