SURABAYA, iNews.id - Penyair legendaris Chairil Anwar merupakan seorang ekspresionis, terutama ketika sudah menyangkut urusan asmara. Chairil Anwar tak pernah menutup-nutupi rasa sukanya kepada perempuan yang mampu melipat hatinya.
Kasmarannya diungkapkan tanpa rasa sungkan, baik dalam bentuk puisi maupun sikap langsung kepada sang kekasih.
Salah satunya saat Chairil Anwar mengejar-ngejar Sumirat atau Mirat, gadis asal Paron, Ngawi (dulu eks Karsidenan Madiun), Jawa Timur.
Demi bertemu tambatan hati, penyair kelahiran Medan Sumatera Utara 26 Juli 1922 itu, nekat menyatroni Paron yang jaraknya dari Jakarta tergolong jauh. Kedatangan Chairil diterima keluarga Mirat dengan tangan terbuka.
Namun keluarga itu agak terkejut begitu tahu isi kopor yang ditenteng Chairil dari Jakarta. Isinya hanya buku-buku dan selembar handuk kecil yang sudah lusuh. "Baju pun cuma yang melekat di badan yang dibawanya," kata RM Djojosepoetro ayah Mirat seperti dikutip dari buku Aku, Berdasarkan Perjalanan Hidup dan Karya Penyair Chairil Anwar (1987).
Chairil bertemu Mirat di Pantai Cilincing, Jakarta pada tahun 1943, sebuah tempat tamasya kala itu. Chairil dan Mirat lantas berpacaran. Keduanya kerap menonton film berdua.
Chairil seorang penyair, sedangkan Mirat gemar melukis di sanggar S Sudjojono, Affandi dan Basuki Abdullah, yakni para perupa kawan dekat Chairil Anwar. Singkat kata, keduanya memiliki hobi sama.
Editor : Ihya Ulumuddin
Artikel Terkait