Warga meminta agar truk yang melintas memberikan kontribusi untuk memperbaiki jalan yang rusak. Salah seorang warga, Bayu, mengatakan jalan tersebut merupakan hasil swadaya masyarakat sehingga warga merasa keberatan jika terus dilalui kendaraan berat tanpa adanya kontribusi untuk perbaikan.
"Kita minta ke yang punya usaha di dalam, truk-truk lain yang masuk sudah memberikan kompensasi kepada kita, memberikan sumbangan untuk perbaikan jalan. Sedangkan yang punya usaha ini tidak mau karena dia merasa bukan truknya saja yang masuk. Jalan ini jalan swadaya desa. Dulu kebetulan almarhum Pak Syamsuri yang mengusahakan mendapatkan ini," kata Bayu.
Dia menilai, intensitas kendaraan berat yang melintas setiap hari membuat kondisi jalan semakin rusak. Warga akhirnya sepakat melarang truk bermuatan melintasi jalan kampung dan hanya mengizinkan kendaraan dalam kondisi kosong.
"Intinya, truknya terlalu besar, terlalu berat. Setiap hari mondar-mandir masuk jalan kampung. Akhirnya jalannya rusak. Sekarang warga sudah geram, akhirnya truk tidak diizinkan masuk, kecuali truknya kosong," kata Bayu.
Untuk meredakan ketegangan, pihak kecamatan bersama Polsek setempat kemudian memediasi warga dan pihak usaha. Mediasi dilakukan untuk mencari solusi terkait penggunaan jalan desa dan perbaikan kerusakan akibat aktivitas kendaraan berat.
Editor : Kurnia Illahi
Artikel Terkait