BANGKALAN, iNews.id - Warga dan sopir truk di Desa Burneh, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, nyaris terlibat bentrokan setelah warga memblokir akses jalan desa. Aksi tersebut dipicu kekesalan warga terhadap kendaraan berat yang setiap hari melintas hingga menyebabkan jalan kampung rusak.
Situasi sempat memanas ketika sejumlah sopir truk dan pemilik usaha pasir mendatangi lokasi. Bahkan, beberapa warga terlihat mengacungkan senjata tajam sehingga memicu ketegangan di antara kedua pihak.
Polisi yang tiba di lokasi langsung berupaya mencegah bentrokan. Petugas juga mengantisipasi penggunaan senjata tajam agar keributan tidak meluas.
Ketegangan bermula saat warga memblokir jalan dan menghentikan truk yang hendak melintas. Warga mengaku sudah lama keberatan karena kendaraan berukuran besar dan bermuatan berat dinilai memperparah kerusakan jalan desa.
Persoalan semakin memanas setelah pemilik usaha pasir disebut tidak bersedia memberikan kompensasi untuk perbaikan jalan. Para sopir kemudian memarkir sejumlah truk di badan jalan sehingga akses warga ikut terganggu dan terjadi penumpukan kendaraan di pintu masuk desa.
Warga meminta agar truk yang melintas memberikan kontribusi untuk memperbaiki jalan yang rusak. Salah seorang warga, Bayu, mengatakan jalan tersebut merupakan hasil swadaya masyarakat sehingga warga merasa keberatan jika terus dilalui kendaraan berat tanpa adanya kontribusi untuk perbaikan.
"Kita minta ke yang punya usaha di dalam, truk-truk lain yang masuk sudah memberikan kompensasi kepada kita, memberikan sumbangan untuk perbaikan jalan. Sedangkan yang punya usaha ini tidak mau karena dia merasa bukan truknya saja yang masuk. Jalan ini jalan swadaya desa. Dulu kebetulan almarhum Pak Syamsuri yang mengusahakan mendapatkan ini," kata Bayu.
Dia menilai, intensitas kendaraan berat yang melintas setiap hari membuat kondisi jalan semakin rusak. Warga akhirnya sepakat melarang truk bermuatan melintasi jalan kampung dan hanya mengizinkan kendaraan dalam kondisi kosong.
"Intinya, truknya terlalu besar, terlalu berat. Setiap hari mondar-mandir masuk jalan kampung. Akhirnya jalannya rusak. Sekarang warga sudah geram, akhirnya truk tidak diizinkan masuk, kecuali truknya kosong," kata Bayu.
Untuk meredakan ketegangan, pihak kecamatan bersama Polsek setempat kemudian memediasi warga dan pihak usaha. Mediasi dilakukan untuk mencari solusi terkait penggunaan jalan desa dan perbaikan kerusakan akibat aktivitas kendaraan berat.
Editor : Kurnia Illahi
Artikel Terkait