Sebelumnya, prajurit khusus itu telah melalui berbagai tahapan latihan, mulai dari latihan geladi posko, tactical floor game (TFG), latihan parsial, dan pada puncaknya dilaksanakan latihan dalam rangka menguji proses latihan dengan melaksanakan lapangan di medan yang sebenarnya untuk merebut dan menguasai sasaran musuh serta membebaskan tokoh penting yang disandera.
Teknik yang digunakan dalam latihan itu, antara lain menerjunkan prajurit Taifib untuk melaksanakan terjun tempur pada dini hari dengan penuh kerahasiaan menggunakan pesawat Cassa U-6205 ketinggian 5.000 kaki, dan penerjunan lainnya menggunakan pesawat Cassa U-6215 dengan ketinggian 3.000 feet.
Penerjunan kedua itu diawali dengan penerjunan perahu karet dari pesawat, selanjutnya para peterjun dengan teknik terjun bebas menyusul mendarat di laut langsung menuju pantai yang dikuasai musuh dengan mengutamakan faktor kecepatan.
Kemudian dilaksanakan penyusupan dari kapal selam oleh prajurit Kopaska menuju kapal musuh untuk dilaksanakan penghancuran. Setelah semua sasaran musuh dapat direbut dan dikuasai, maka dalam rangka pengunduran serta melakukan pembebasan tokoh penting yang disandera oleh musuh, prajurit Taifib melakukannya dengan menggunakan teknik stabo, yaitu suatu teknik pemindahan pasukan lewat udara dengan menggunakan tali yang digantungkan pada helikopter.
Teknik ini hanya dapat dilakukan oleh pasukan khusus, karena membutuhkan kecermatan, ketelitian, dan perhitungan yang tepat, mengingat berisiko yang sangat tinggi terhadap keselamatan pasukan maupun helikopter itu sendiri.
Turut hadir dalam peninjauan latihan, Dankodiklatal Laksdya TNI Nurhidayat, Pangkoarmada 2 Laksda TNI Dr Iwan Isnurwanto, Asrena Kasal Laksda TNI Abdul Rasyid K, Aslog Kasal Laksda TNI Puguh Santoso, Asops Kasal Laksda TNI Dadi Hartanto, Gubernur AAL Mayjen TNI (Mar) Nur Alamsyah, Danpuspenerbal Laksda TNI Edwin, dan sejumlah perwira tinggi lainnya.
Editor : Nani Suherni
Artikel Terkait