Tangis Ratusan Mahasiswa Mengenang Guru Budi yang Tewas Dianiaya Siswa

Deni Irwansyah ยท Kamis, 08 Februari 2018 - 16:42 WIB
Tangis Ratusan Mahasiswa Mengenang Guru Budi yang Tewas Dianiaya Siswa
Ratusan mahasiswa dan civitas akademika Universitas Negeri Malang menggelar aksi keprihatinan dan doa bersama untuk guru Budi. (Foto: iNews/Deni Irwansyah)

MALANG, iNews.id – Isak tangis ratusan mahasiswa mewarnai aksi keprihatinan dan doa bersama untuk guru Ahmad Budi Cahyono yang digelar di Universitas Negeri Malang Jawa Timur (Jatim), Kamis siang (8/2/2018). Kampus ini menjadi tempat guru yang tewas usai dianiaya oleh muridnya sendiri itu menuntut ilmu. Guru Budi merupakan alumni Fakultas Sastra angkatan tahun 2009.

Ratusan mahasiswa tidak bisa menyembunyikan kesedihannya saat mengenang sosok Budi dalam serangkaian kegiatan di Gedung Sasana Budaya, Universitas Negeri Malang. Apalagi mengingat kematiannya pada Kamis, 1 Februari 2018 lalu, karena dianiaya oleh siswanya sendiri.

Kegiatan diisi dengan pembacaan puisi diiringi dengan permainan biola, alat musik yang dikenal lekat dengan sosok guru Budi. Teman almarhum semasa kuliah, Leo Zaini, membacakan puisi untuk Budi. Leo mengenang guru Budi semasa hidup sebagai sosok yang tidak neko-neko. “Memang anaknya kalem,” ujarnya.

Leo juga mengungkapkan, guru Budi semasa kuliah punya kisah sedih karena mengalami keterbatasan biaya saat akan menyelesaikan tugas skripsi. Akhirnya, dia rela menjual biola kesayangannya untuk memenuhi biaya penulisan skripsi.

“Dia jual lewat online dan kebetulan yang membeli biola itu teman saya yang sekarang mengajar di Jakarta. Dia membeli biola dengan ada transaksi seandainya Budi sudah punya uang lagi maka biola itu akan ditebus kembali,” ungkap Leo Zaini.


Sementara Wakil Rektor III Universitas Negeri Malang, Syamsul Hadi dalam kegiatan tersebut memaparkan, aksi keprihatinan dan doa untuk guru Budi itu merupakan ungkapan simpati dan duka yang sedalam-dalamnya atas peristiwa yang menimpa guru di SMA Negeri 1 Torjun Sampang itu. “Kami sangat berduka, sangat sedih atas kepergian korban karena almarhum adalah salah seorang alumni Universitas Negeri Malang dari Fakultas Sastra,” kata Syamsul Hadi.

Dia berharap tidak ada lagi guru yang mengalami nasib serupa seperti guru Budi. Baginya, kasus itu merupakan aib bagi pendidikan Indonesia dan mencederai sosok guru yang dihormati. Sebagai kampus yang dulunya disebut IKIP, tempat mencetak para guru, civitas akademika Universitas Negeri Malang meminta agar segera ada payung hukum khusus untuk perlindungan guru. Perlindungan tidak hanya dari sisi fisik, tapi juga profesinya.

“Sampai hari ini, saya kira masih banyak kalangan masyarakat yang memandang guru bukan profesi yang terbaik. Kami harapkan dengan ada peraturan, perlindungan, barangkali ada rambu-rambu yang guru itu seharusnya dilindungi secara hukum, terutama ketika menjalankan tugasnya,” paparnya.
 
Selain doa bersama, aksi tersebut juga diisi dengan mengumpulkan donasi peduli guru Budi yang akan diserahkan kepada keluarga.


Editor : Maria Christina