Syaikhona Kholil, Ulama Kharismatik Pulau Madura: Cinta Tanah Air Sebagian dari Iman

Lukman Hakim ยท Sabtu, 19 Juni 2021 - 11:38:00 WIB
Syaikhona Kholil, Ulama Kharismatik Pulau Madura: Cinta Tanah Air Sebagian dari Iman
Lukisan Syaikhona Kholil ulama kharismatik asal Pulau Madura di Museum Den Haag, Belanda. (Foto: Istimewa)

JAKARTA, iNews.id - Muhammad Kholil atau dikenal Syaikhona Kholil merupakan salah satu ulama kharismatik asal Pulau Madura. Mbah Kholil lahir pada Selasa 11 Jumadil Akhir 1235 H atau 27 Januari 1820 Masehi. 

Dia merupakan putra KH Abdul Lathif, warga Desa Kemayoran, Kecamatan Kota, Bangkalan

Sejak kecil, dia dididik sangat ketat oleh ayahnya. Mbah Kholil kecil memang menunjukkan bakat yang istimewa, kehausannya akan ilmu, terutama ilmu Fiqh dan nahwu. Bahkan, dia sudah hafal dengan baik Nazham Alfiyah Ibnu Malik (seribu bait ilmu Nahwu) sejak usia muda.

Melihat bakatnya dalam ilmu agama yang luar biasa, orang tua Mbah Kholil kecil mengirimnya ke berbagai pesantren untuk menimba ilmu. Mengawali pengembaraannya, Mbah Kholil muda belajar kepada Kiai Muhammad Nur di Pondok Pesantren Langitan, Tuban, Jawa Timur.

Dari Langitan pindah ke Pondok Pesantren Cangaan, Bangil, Pasuruan. Kemudian pindah ke Pondok Pesantren Keboncandi, Pasuruan. Selama belajar di Pondok Pesantren ini beliau belajar pula kepada Kiai Nur Hasan di Sidogiri, 7 kilometer (km) dari Keboncandi.

Kehausannya akan ilmu agama terus bertambah. Mbah Kholil muda berkeinginan untuk menimba ilmu ke Makkah. Niatnya itu tidak disampaikan kepada orangtuanya, apalagi meminta ongkos kepada orangtua. Mbah Kholil akhirnya pergi ke pesantren di Banyuwangi dan nyambi menjadi “buruh” pemetik kelapa pada gurunya. Untuk setiap pohonnya, dia mendapat upah 2,5 sen.

Uang yang diperolehnya tersebut dia tabung. Sedangkan untuk makan, Mbah Kholil menyiasatinya dengan mengisi bak mandi, mencuci dan melakukan pekerjaan rumah lainnya, serta menjadi juru masak teman-temannya.

Menginjak usia 24 tahun, Mbah Kholil memutuskan untuk pergi ke Mekkah. Di Mekkah, Mbah Kholil belajar dengan Syeikh Nawawi Al-Bantani (Guru Ulama Indonesia dari Banten). Di antara gurunya di Makkah ialah Syeikh Utsman bin Hasan Ad-Dimyathi, Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, Syeikh Mustafa bin Muhammad Al-Afifi Al-Makki, Syeikh Abdul Hamid bin Mahmud Asy-Syarwani. Beberapa sanad hadits yang musalsal diterima dari Syeikh Nawawi Al-Bantani dan Abdul Ghani bin Subuh bin Ismail Al-Bimawi (Bima, Sumbawa).

Sewaktu berada di Mekkah untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, Mbah Kholil bekerja mengambil upah sebagai penyalin kitab-kitab yang diperlukan oleh para pelajar. Sepulangnya dari Mekkah, Mbah Kholil dikenal sebagai salah seorang kiai yang dapat memadukan kedua hal itu dengan serasi.

Dia juga dikenal sebagai al-Hafidz (hafal Alquran 30 Juz). Sepulang dari Mekkah, Mbah Kholil mendirikan pesantren di daerah Cengkubuan, Bangkalan.

Editor : Donald Karouw

Halaman : 1 2 3

Bagikan Artikel: