Sosok Pemuda Sentot, Panglima Perang Diponegoro Hidup Boros tapi Pemberani
Sosok Sentot digambarkan sebagai anak muda yang brilian, pemberani, dan berapi-api di segala hal. Di pengujung 1828, saat usianya 20 tahun, Sentot tampil sebagai panglima militer dan ahli strategi yang terkenal.
Di bawah sosok Sentot, pasukannya berhasil memenangkan pertempuran dengan pasukan Gerak Cepat ke-8 yang dipimpin Mayor H.F. Buschkens di Kroya, Bagelen Timur, pada awal Oktober 1828.
Tetapi di sisi lain, dinamika jalannya perang ini mulai tidak menguntungkan bagi Pangeran Diponegoro.
Pada Desember 1828, Sentot meminta agar diberi kuasa untuk memimpin seluruh kekuatan pasukan Diponegoro di medan tempur, sekaligus diizinkan untuk menarik pajak langsung, yang berarti mengabaikan patih.
Pangeran Diponegoro lalu meminta pendapat para komandan yang lain dan juga bertanya pada pamannya Pangeran Ngabehi tentang permintaan Sentot itu.
Permintaan Sentot rupanya mengganggu batin sang pangeran. Dia sadar bahwa perannya sebagai Ratu Adil mestilah menjamin kebijakan pajak yang ringan dan tersedianya sandang pangan murah.
Pangeran Diponegoro tak ingin rakyat kebanyakan bakal ditindas jika Sentot yang terkenal suka hidup boros itu diizinkan memegang dalam satu tangan tanggung jawab militer dan pemerintahan.
Editor: Reza Yunanto