Punya Mobil dan Rumah Bagus, Warga Nganjuk Ini Tak Mau Mundur sebagai Penerima PKH

Mukhtar Bagus · Jumat, 22 Mei 2020 - 11:05 WIB
Punya Mobil dan Rumah Bagus, Warga Nganjuk Ini Tak Mau Mundur sebagai Penerima PKH
Suma’ani, pemilik mobil dan perabot bagus di Nganjuk yang menjadi penerima PKH. (Foto: iNews/Mukhtar Bagus)

NGANJUK, iNews.id - Warga di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur (Jatim) dihebohkan dengan adanya penerima bantuan pemerintah Program Keluarga Harapan (PKH) yang ternyata memiliki rumah bagus dan mobil. Meski kondisi keluarga ini dinilai sudah mampu secara ekonomi, hingga kini penerima PKH tersebut tak kunjung mengundurkan diri.

Suma’ani (39) warga Desa Mlorah, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Nganjuk ini dengan penuh percaya diri mengakui menerima program bantuan dari pemerintah PKH. Bahkan tanpa keberatan, Suma’ani bersedia menunjukkan mobil dengan nopol B 8782 DQ maupun perabotan rumah yang dimiliki.

Sebelumnya, foto Suma’ani bersama mobilnya sempat heboh di media sosial karena masih tercatat sebagai penerima bantuan PKH. Meski memiliki mobil, Suma’ani juga tidak keberatan rumahnya diberi label keluarga penerima PKH menggunakan cat di tembok.

Suma’ani dan keluarganya sudah menerima bantuan PKH sejak dua tahun terakhir. Awalnya, keluarganya diajukan sebagai penerima PKH karena kondisi ekonominya masih terpuruk. Namun seiring berjalannya waktu, kini ekonomi keluarganya sudah membaik dan mampu membeli mobil.

“Awalnya, saat itu saya dapat undangan ke balai desa untuk menerima PKH. Saya mau saja karena saya tidak mengajukan dan saat itu memang masih tidak punya,” katanya, Kamis (21/5/2020).

Sayangnya Suma’ani enggan mengundurkan diri sebagai penerima bantuan PKH karena merasa sakit hati. Dia merasa perangkat desa dan pendamping PKH sering menyindirnya supaya mundur sebagai penerima PKH.

“Awalnya saya mau mundur, tapi karena disindir-sindir terus dan sakit hati, makanya saya ga mundur,” katanya.

Baginya, cara komunikasi perangkat desa dan pendamping PKH menyuruhnya mundur menyakitkan hati. Namun, dia mengaku jika sudah ada komunikasi yang baik dari perangkat desa maupun pendamping program PKH, Suma’ani berjanji akan mengundurkan diri dengan senang hati.

“Sekarang saya belum ada kemauan, karena masih sakit hati,” katanya.

Suami Suma’ani bekerja sebagai kuli bangunan. Sementara mobil yang dia miliki sering disewakan kepada warga. Status rumah Suma’ani merupakan milik suami namun garasi mobil masih menumpang di tanah adik ipar.


Editor : Umaya Khusniah