Pelaku Penyerangan Polisi di Lamongan Pernah Membunuh Guru Ngaji

Ihya Ulumuddin ยท Rabu, 21 November 2018 - 09:36 WIB
Pelaku Penyerangan Polisi di Lamongan Pernah Membunuh Guru Ngaji
Pos polisi di kompleks Wisata Bahari Lamongan (WBL) Paciran, Lamongan, Jawa Timur, diserang dua pria misterius, Selasa (20/11/2018) dini hari. (Foto: Istimewa)

SURABAYA, iNews.id – Nama Eko Ristanto (ER), pelaku penyerangan polisi di Lamongan, Selasa (20/11/2018) tidak asing bagi polisi maupun publik Jawa Timur (Jatim). Sebab, Eko sebelumnya anggota polisi berpangkat Briptu. Karier Eko berakhir lantaran kasus pembunuhan guru ngaji.

Kasus itu terjadi pada 2011 silam. Eko sempat menggegerkan publik karena menembak mati seorang guru ngaji Riyadus Sholihin. Lokasinya di depan Gedung Olahraga (GOR) Sidoarjo.

Tindakan sadis ini bermula saat mobil yang dikendarai Solihin tak sengaja menyerempat Briptu Widiarto, rekan Eko. Karena tak terima, Eko dan beberapa rekannya yang saat itu perjalanan pulang dari Kafe Ponti mengejar Sholihin. Saat itulah Sholihin ditembak di bagian kepala dan meninggal dunia.

Kasus ini sempat direkayasa. Sholihin disebut membawa narkoba dan menyerang polisi saat hendak ditangkap sehingga terpaksa Sholihin ditembak mati. Namun, kebenaran akhirnya terungkap. Briptu Eko diadili dan dijatuhi vonis 11 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri (PN) Sidoarjo. Pascavonis itu, Briptu Eko pun dipecat dari kenaggotaan polisi. Tahun 2012, dia resmi menyandang status sipil.

Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Frans Barung Mangera membenarkan latar belakang Eko Ristanto ini. Namun, Barung tidak mengetahui lagi kelanjutan kasusnya hingga dia bebas dan melakukan aksi penyerangan pos polisi di Lamongan Selasa lalu.

“Dia dulu memang polisi, tetapi dipecat karena menembak mati guru ngaji. Mengenai kasus penyerangan ini, semua masih diselidiki. Termasuk dugaan keterkaitan dia dengan kelompok radikal,” katanya, Rabu (21/11/2018).

Barung mengatakan, kasus penyerangan polisi ini sekarang telah diambil alih oleh Detasmen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri. Langkah ini diambil karena ada dugaan Eko Ristanto masuk dalam jaringan teroris.

Informasi yang dihimpun, Eko masuk dalam jaringan kelompok radikal saat bertemu dengan tahanan teroris di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Porong. Dugaan keterlibatan ini juga dipastikan Kapolda Jatim Irjen Pol Luki Hermawan. Bahkan, saat rumahnya digeledah polisi juga menemukan berbagai buku tentang kelompok radikal. Termasuk di antaranya buku tulisan mantan teroris kakap Dr Azhari dan Nurdin M Top.

Diketahui, Selasa (20/11/2018) dini hari, Eko bersama seorang teman menyerang pos polisi di kawasan Wisata Bahari  Lamongan (WBL). Mereka melempar kaca pos penjagaan dengan batu dan pecah. Tak hanya itu, Eko dan rekannya juga melesatkan kelereng menggunakan ketapel ke arah Bripka AA (Andreas) Anggota Polisi Lalu Lintas Polsek Paciran. Akibat tindakan ini, bola mata Bripka Andreas sobek dan harus menjalani operasi.


Editor : Maria Christina