Patung Dewa Tertinggi se-Asia Tenggara di Tuban Kembali Dibuka
TUBAN, iNews.id – Masih ingat dengan keberadaan patung raksasa Dewa Kwan Kong di Tuban, Jawa Timur?. Patung dewa perang tertinggi se-Asia Tenggara itu sempat ditutup lantaran menimbulkan polemik pada pertengahan 2017 silam. Namun kini, patung setinggi 30,4 meter itu telah kembali dibuka.
Patung Dewa Kwan Kong yang sangat dipuja dan dihormati umat Tri Dharma Tionghoa itu terletak di kawasan Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Kwan Sing Bio. Berada di bagian belakang klenteng, patung itu menjadi magnet bagi ratusan warga dan wisatawan yang datang berkunjung saat perayaan Imlek 2568.
Sejak kembali dibuka, patung raksasa itu langsung menjadi primadona para warga dan wisatawan yang berkunjung ke Klenteng Kwan Sing Bio tersebut. Momen itu pun mereka abadikan dengan lensa kamera berlatar dewa perang tersebut.
“Saya senang mendengar dan bisa melihat patung tertinggi ini. Apalagi sebagai warga Indonesia yang terdiri atas berbagai macam suku, agama, dan ras, sudah menjadi kewajiban kita untuk saling menghormati,” kata Muh Ta’im, seorang wisatawan lokal asal Surabaya.
Selain banjir pengunjung, Pantauan iNews, sejumlah umat Tri Dharma tampak melakukan ritual di klenteng tersebut. Mereka membawa burung yang disimpan dalam kandang lalu mengibas-kibaskan dan melepasnya ke udara.
Menurut penuturan Liany, seorang warga Tionghoa, umat sedang menjalani ritual Fang She, yakni melepas mahluk hidup (burung). Ritual itu dimaksudkan sebagai bentuk pelepasan segala hal yang buruk. “Kami sekaligus bermohon dan memohon panjang umur,” kata Liany.
Tak hanya datang berdoa, dia bersama keluarganya datang khusus dari Jakarta ke Tuban untuk mendatangi langsung salah satu klenteng tertua di Indonesia tersebut. Liany menjadi satu di antara umat Tri Dharma lain dari penjuru nusantara, yang tak menyia-nyiakan kesempatan untuk berdoa, di satu satunya klenteng yang menghadap ke laut tersebut.
“Saya datang bersama keluarga dari Jakarta. Kami juga penasaran ingin melihat langsung Patung Dewa Kwan Kong tertinggi se-Asia Tenggara itu, sekaligus untuk bersembahyang,” tuturnya.
Sebelumnya patung ini menuai kontroversi. Keberadaannya mengejutkan publik setelah menyabet rekor MURI sebagai patung dewa tertinggi di Asia Tenggara, Juli 2017. Kehebohan itu kemudian meredup lantaran muncul desakan penutupan dan pembongkaran patung yang ditengarai belum mengantongi izin tersebut di awal Agustus 2017. Desakan protes mengalir deras, sehingga diperoleh keputusan untuk menutup sementara patung itu dengan kain putih agar tidak memicu polemik lebih jauh di masyarakat.
Editor: Donald Karouw