Pandemi Covid-19, Angka Perceraian di Gresik Melonjak

Ashadi Iksan ยท Kamis, 01 Oktober 2020 - 14:33:00 WIB
Pandemi Covid-19, Angka Perceraian di Gresik Melonjak
Suasanya pelayanan di Pengadilan Agama Gresik. (Foto: SINDOnews/Ashadi Iksan)

GRESIK, iNews.id - Tingkat perceraian di Kabupaten Gresik, Jawa Timur (Jatim) tinggi selama pandemi Covid-19. Hingga Maret 2020, jumlah janda di Gresik tembus 1.058 orang.

Data perceraian di Pengadilan Agama (PA) Gresik, pada bulan Maret ada 268 perkara perceraian. Sementara bulan Agustus sebanyak 190 kasus.

Dari semua kasus, ada 13 alasan yang menjadi faktor penyebab terjadinya perceraian di Kabupaten Gresik. Mulai dari zina, mabuk, madat, judi, meninggalkan satu pihak, dihukum penjara, poligami hingga kekerasan dalam rumah tangga. Selain itu ada juga lantaran cacat badan, perselisihan terus-menerus, kawin paksa, murtad dan faktor ekonomi.

Sementara faktor penyebab terjadinya perceraian paling banyak adalah faktor ekonomi. Total ada 630 pasangan yang bercerai karena faktor ini.

Kemudian disusul faktor perselisihan terus-menerus dan kekerasan dalam rumah tangga. Faktor lainnya yakni meninggalkan satu pihak dan mabuk-mabukan.

Hakim Humas PA Gresik, Sofyan Zefri mengatakan, angka perceraian didominasi usia produktif mulai 25-40 tahun. "Perceraian di tengah pandemi Covid-19 didominasi karena faktor ekonomi," ujarnya, Rabu (30/9/2020).

Tingginya angka perceraian di tengah pandemi Covid-19 karena pasangan sebelum pandemi memang memiliki masalah kecil. Saat pandemi, salah satu dari mereka ada yang terdampak sehingga membuat masalah kecil tersebut membesar hingga berujung perceraian.

"Bisa jadi suami kehilangan pekerjaan sehingga pasangan belum siap untuk menghadapi bersama," katanya.

Menurutnya, perceraian bukan satu-satunya solusi menyelesaikan masalah dalam rumah tangga. Prinsip perceraian dipersulit, sehingga tidak bisa serta merta menceraikan pasangan semena-semena.

Terdapat tiga faktor untuk memutuskan perkara cerai. Pertama yakni pertengkaran dan perselisihan. Kedua yakni faktor perpisahan dan terakhir yakni gagalnya segala upaya perdamaian baik melalui nasihat keluarga dan hakim.

"Kita di Pengadilan Agama tidak pernah ragu untuk menolak kalau alasannya tidak jelas," katanya.


Editor : Umaya Khusniah