Nekat Punguti Sampah di Tengah Demo Omnibus Law, Risma: Paling Aku Dipateni

Rahmat Ilyasan ยท Selasa, 10 November 2020 - 20:46:00 WIB
Nekat Punguti Sampah di Tengah Demo Omnibus Law, Risma: Paling Aku Dipateni
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini membawa karung memunguti sampah, Selasa (10/11/2020).(Foto: iNews.id/Rahmat Ilyasan)

SURABAYA, iNews.id – Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini nekat masuk ke tengah-tengah aksi unjuk rasa menolak Omnibus Law di Jalan Gubernur Suryo, Selasa (10/11/2020). Dikawal beberapa pejabat, Risma masuk ke kerumunan pendemo sambil membawa karung untuk memunguti sampah.

Aksi nekat Risma ini pun mengundang perhatian para pendemo. Beberapa di antara mereka bahkan menyoraki Risma dan meminta orang nomor satu tersebut ikut peduli dengan Omnibus Law yang ditolak buruh dan mahasiswa.

Namun, Risma bergeming. Dia tetap diam dan terus memunguti sampah di tengah-tengah kerumunan. Ketegangan sempat terjadi saat seorang pendemo berteriak di depan Risma. “Sakno aku iki lho buk, aku di-PHK gara-gara Omnibus Law,” kata salah seorang pendemo.

Mendapat teriakan itu, Risma balas berteriak “Aku sudah kirim surat ke Presiden. Kalau tidak percaya silahkan dicek,” katanya. Sesat kemudian, beberapa pengawal Risma meminta pendemo pergi dan menenangkan suasana.

Ditemui seusai aksi, Risma mengaku nekat masuk ke tengah pendemo dan memunguti sampah karena tidak ingin ada sampah berserakan di jalan. Sebab, pada aksi demo 8 Oktober lalu, banyak sampah sisa aksi. Akibatnya petugas kebersihan membersihkan sampah hingga larut malam.

“Kemarin sebelum ini sampahnya banyak sekali. Aku pulang jam 22.00 mereka (tukang sampah) masih bersih-bersih. Mereka memang tukang sapu, tetapi mereka juga manusia. Kan kasihan,” katanya.

Risma juga menganggap aksi turun ke tengah aksi sore tadi juga dianggap sebagai aksi biasa. “Nggak lah. Paling lak aku dipateni ya to (paling aku dibunuh ya kan),” katanya.

Sementara itu, aksi unjuk rasa di depan Gedung Negara Grahadi akhirnya dibubarkan polisi dengan tertib. Aksi dibubarkan karena sudah melebihi batas waktu yang ditentukan.

Editor : Ihya Ulumuddin