Mantan Bupati Bangkalan Meninggal, Kalapas: Pak Fuad Sering Masuk Rumah Sakit

Ihya' Ulumuddin ยท Senin, 16 September 2019 - 18:18 WIB
Mantan Bupati Bangkalan Meninggal, Kalapas: Pak Fuad Sering Masuk Rumah Sakit
Mantan Bupati Bangkalan Fuad Amin Imron. (Foto: Koran SINDO)

SURABAYA, iNews.id – Mantan Bupati Bangkalan Fuad Amin meninggal dunia pada usia 71 tahun. Terpidana korupsi suap dan jual beli jabatan PNS ini diketahui menderita penyakit jantung sejak lama.

Akibat penyakit ini, Fuad bahkan keluar-masuk rumah sakit. Kondisi ini terjadi saat Fuad menjalani masa hukuman di Lapas Porong.

Kepastian ini disampaikan Kepala Lapas Kelas 1 Porong Tony Nainggolan kepada wartawan, Senin (16/9/2019). Tony mengatakan, Fuad sering dibantarkan ke Graha Amerta RSUD Dr Soetomo.

Ya, Pak Fuad meninggal setelah beberapa lama menjalani perawatan di rumah sakit. Dia sakit jantung dan komplikasi lainnya,” katanya, Senin (16/9/2019).

Tony menjelaskan, saat ini jenazah masih berada di Graha Amerta dan tengah diproses pemulangannya. “Kami akan membuat berita acara penyerahan jenazah ke keluarga alm Fuad Amin. Saat ini petugas kita sudah di rumah sakit untuk mempersiapkan penerimaan jenazah,” katanya.

Diketahui, Fuad Amin meninggal dunia saat menjalani perawatan di Graha Amerta SRUD Dr.Soetomo. Fuad meninggal sekitar pukul 16.00 WIB.

Fuad Amin pernah menjadi anggota DPR peripde 1999-2004. Belum sampai habis masa jabatan, Fuad terpilih sebagai Bupati Bangkalan selama dua periode. Yakni sejak 2003 hingga 2013. Setelah itu, posisinya digantikan anaknya, Ra Momon.

Kendati demikian, karier politik Fuad tidak berhenti. Dia masuk ke partai Gerindra dan terpilih sebagai Ketua DPRD Bangkalan periode 2014-2019. Namun, posisi ini berakhir di tengah jalan.

Dia terkena operasi tangkap tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam kasus suap dan jual beli jabatan.

Pada kasus ini, Fuad divonis 8 tahun penjara. Namun, hukuman tersebut bertambah menjadi 13 tahun, setelah Fuad mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi.

Fuad Amin kali pertama mendekam di Lapas Sukamiskin, sebelum akhirnya dipindahkan ke Lapas Porong.


Editor : Kastolani Marzuki