Kisah Trunajaya, Sukses Kuasai Istana Mataram Usai Taklukkan Pangeran Puger 

Avirista Midaada · Sabtu, 13 Agustus 2022 - 09:33:00 WIB
Kisah Trunajaya, Sukses Kuasai Istana Mataram Usai Taklukkan Pangeran Puger 
Peninggalan Kerajaan Mataram. (Foto: pecihitam).

SURABAYA, iNews.id - Kerajaan Mataram di bawah kekuasaan Sultan Amangkurat I luluh lantak diserang Trunajaya dari Jawa Timur. Serangan itu membuat Trunajaya sukses menguasai ibu kota kerajaan Plered dan membuat raja terpaksa mengungsi. 

Usaha Trunajaya untuk menguasai Plered sebenarnya tidak mudah. Sebab, sang putra raja Sultan Amangkurat I, Pangeran Puger mencoba memberikan perlawanan. Sementara sang raja terlebih dahulu melarikan diri ke barat dan menugasi Adipati Anom atau Amangkurat II untuk mempertahankan istana.

Tetapi sebagaimana dikutip dari buku "Tuah Bumi Mataram dari Panembahan Senopati hingga Amangkurat II" tulisan Peri Mardiyono, permintaan Amangkurat I kepada Amangkurat II ditolak. Dia juga memilih mengungsi, hingga akhirnya sang kakak tirinya Pangeran Puger yang tampil untuk menghadapi pasukan Trunajaya. 

Pangeran Puger ingin membuktikan kepada sang ayah bahwa tidak semua anggota keluarga Kajoran terlibat pemberontakan Trunajaya. Pangeran Puger juga ingin membuktikan nyalinya lebih besar daripada saudara tirinya Sultan Amangkurat II dalam mempertahankan Keraton Plered.

Pangeran Puger bersama pasukannya berjuang sendirian menghadapi serbuan dari pasukan Trunajaya dan koalisinya. Kekuatan besar Trunajaya dan beberapa kerajaan di Jawa Timur membuat Pangeran Puger kewalahan.

Alhasil karena terdesak dan kalah pasukan, Pangeran Puger terpaksa menyingkir ke Desa Jenar dan membiarkan Plered dikuasai oleh pemberontak pimpinan Trunajaya. Di Desa Jenar inilah Pangeran Puger membangun istana baru bernama Kerajaan Purwakanda. Dia lalu mengangkat dirinya sebagai raja bergelar Susuhunan Ingalaga.

Trunajaya bersama anak buahnya menjarah harta benda pusaka Keraton Mataram di Plered. Segala harta benda barang rampasan dari Mataram dibawa ke markas baru di Kediri.

Editor : Ihya Ulumuddin

Halaman : 1 2

Bagikan Artikel: