Kisah Skandal Kumpul Kebo di Tangsi Tentara KNIL Masa Kolonial Belanda

Solichan Arif ยท Sabtu, 23 Juli 2022 - 20:19:00 WIB
Kisah Skandal Kumpul Kebo di Tangsi Tentara KNIL Masa Kolonial Belanda
Minah dan Thomas bersama dua anak tertua mereka sekitar 1897. (foto repro/ist)

SURABAYA, iNews.id - Praktik pergundikan atau kumpul kebo terjadi di lingkungan militer KNIL (Koninklijke Nederlands Indische Leger) masa Pemerintahan Hindia Belanda. Saat itu, serdadu KNIL dibolehkan memiliki nyai atau moentji, sebutan untuk perempuan simpanan di dalam tangsi militer. 

Mereka perlu perempuan untuk mengurus pakaian, senjata, makanan, bersih-bersih ruangan, hingga layanan di atas ranjang. Bagi KNIL, praktik pergundikan tersebut tak perlu dilarang karena menguatkan mental tentara.

Jenderal Haga, pemimpin KNIL dalam suratnya kepada Menteri Penjajahan L.W.Ch Keuchenius tahun 1887 menyebut, pelarangan pergundikan justru hanya akan menimbulkan kerugian. Ketidakhadiran para perempuan di tangsi militer justru akan membuat para serdadu mengalami rasa kehilangan yang besar.

“Pelarangan pergundikan tangsi pasti akan memberi pengaruh yang merugikan dalam merekrut para Pribumi dan orang-orang Ambon,” tulis Jenderal Haga seperti dikutip dari buku Nyai & Pergundikan di Hindia Belanda.

Pada tahun 1898, jumlah tentara KNIL di Hindia Belanda sebanyak 42.000 orang. Sebanyak 18.000 orang di antaranya serdadu Eropa dan selebihnya merupakan tentara pribumi. Di dalam tangsi militer, mereka memiliki julukannya sendiri.

Serdadu Eropa berjuluk Jan Fuselier atau tentara bersenjata. Sedangkan serdadu pribumi dipanggil Kromo. Sementara Sarina yakni julukan perempuan yang hidup di dalam tangsi.

Editor : Ihya Ulumuddin

Bagikan Artikel: