Khofifah Minta Guru di Jatim Dorong Minat Baca Siswa Berbasis Digital

Ihya Ulumuddin ยท Minggu, 10 Mei 2020 - 03:05 WIB
Khofifah Minta Guru di Jatim Dorong Minat Baca Siswa Berbasis Digital
Gubernur Jawa Timur Khofifah dalam sebuah acara Webinar Pendidikan di Gedung Negara Grahadi. (foto:istimewa)

SURABAYA, iNews.id - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meminta guru dan tenaga kependidikan turut mendorong minat baca siswa berbasis digital. Pesan ini disampaikan agar para siswa tidak gagap di era industri 4.0.

Khofifah mengatakan, saat ini Jawa Timur menempati peringkat ke-26 dari 34 provinsi se-Indonesia dengan nilai indeks aktivitas literasi membaca 33,19. Angka tersebut masuk dalam kategori rendah. Karena itu, semangat literasi harus terus digencarkan sejak dini.

“Data tersebut seharusnya menjadi pendorong bagi kita bersama untuk meningkatkan literasi anak-anak di Jatim. Jangan anggap sepele, karena sangat berpengaruh terhadap daya saing Jatim kedepan,” kata Khofifah pada acara Webinar Pendidikan di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Rabu (6/5/2020) lalu. 

Menurut Khofifah, dengan membaca, anak dapat memperoleh pengetahuan yang bagus. Pengetahun yang luasa bisa membantu anak mencari solusi atas masalah yang dihadapi.

Khofifah mengatakan, di era revolusi industri 4.0 seperti saat ini, tidak sulit menemukan buku bacaan. Banyak platform yang menyediakan buku bacaan digital secara gratis tanpa harus membeli, sehingga memudahkan siswa dalam melakukan kegiatan belajar.

“Pemerintah melalui Kemendikbud juga menyediakan banyak buku digital gratis. Tinggal mau atau tidaknya saja kita. Nah, disinilah peran penting guru dan tenaga pendidik untuk mendorong mereka untuk mengakses buku-buku tersebut,” katanya.

“Jadi, kalau dulu kita bisa beralasan rendahnya minat baca karena persoalan aksesibilitas dan harga, maka sekarang alasan itu sudah tidak relevan digunakan. Buku bisa diperoleh gratis. Bisa dibaca dan dibawa ke mana-mana karena berbentuk digital,” katanya.

Khofifah menyebut, era tahun 1960 an sebagian besar masyarakat kita termasuk kategori listening society atau masyarakat yang lebih suka mendengarkan. Namun, ketika mereka sudah masuk pada masyarakat yang terdidik mereka bisa disebut masyarakat kategori schooling society.

Sedangkan, ketika mereka berada di tataran schooling society akan terjadi pergerakan hingga tataran writing society. “Ketika sudah pada titik writing society juga tumbuh di berbagai lini maka pada saat yang sama pasti akan diikuti oleh reading society,” katanya.

"Saya mohon lewat Webinar ini bisa dicari rekomendasi strategis untuk perumusan kebijakan yang efektif bagi masyarakat kategori listening society, writing society hingga reading society,” katanya.


Editor : Ihya Ulumuddin