get app
inews
Aa Text
Read Next : Maling di Sragen Curi Pompa Injeksi Truk Seharga Belasan Juta, Dijual Rp50.000

Kerajaan Pajajaran Berjaya di Masa Prabu Nilakendra, Tapi Maling Merajalela 

Sabtu, 01 Januari 2022 - 16:46:00 WIB
Kerajaan Pajajaran Berjaya di Masa Prabu Nilakendra, Tapi Maling Merajalela 
Salah satu peninggalan Kerajaan Pajajaran. (Foto: serarahlengkap).

SURABAYA, iNews.id - Karajaan Pajajaran kembali berjaya di masa kepemimpinan Prabu Nilakendra. Sejumlah infrastruktur 
megah dibangun untuk menarik pandangan mata. Beberapa di antaranya sejumlah taman di depan keraton merekonstruksi ulang istana serta memasang berbagai ukiran di tembok-tembok istana. 

Tetapi sebagaimana buku "Hitam Putih Pajajaran : Dari Kejayaan Hingga Keruntuhan Kerajaan Pajajaran" dari Fery Taufiq El Jaquenne, pembangunan fisik yang dilakukan Nilakendra tak diimbangi dengan pembangunan spiritual dan kepastian keamanan.

Padahal jika ia belajar dari sejarah, seharusnya Nilakendra tahu bahwa Pajajaran mengalami kemerosotan signifikan, salah satunya karena faktor keamanan. Pasca Prabu Siliwangi memerintah, wilayah Pajajaran semakin sering diganggu keamanannya oleh musuh.

Bahkan di masa zaman Nilakendra, musuh-musuh sudah mulai mendekat ke dalam keraton. Masyarakat Sunda sudah banyak yang membangkang, mulai pemerintahan, pemuka agama, hingga raja mereka di daerah kekuasaan Pajajaran. 

Parahnya di masa Nilakendra, Pakuan tidak memperhatikan lagi keadaan masyarakat. Prinsip "nyatu tampa ponyo, nginum twak tamba hanaang" atau makan sekedar lapar, minum menghilangkan dahaga, sudah tidak lagi ada. 

Namun yang justru, "wong huma darpa mamangan, Tan igar yan yan pepelekan" yang berarti para petani merasa kurang makanan, tidak merasa senang bila tidak bertanam sesuatu. 

Di masa pemerintahan Nilakendra, ditemukan banyak rakyat mulai frustasi. Mereka takut sewaktu-waktu ada musuh datang menyerang, sedangkan kerajaan tidak pernah memperhatikan keadaan rakyat. Sejauh ini yang diperhatikan pihak keraton hanya masalah Cirebon dan Banten.

Padahal selain itu, banyak musuh-musuh yang datang, seperti preman, copet, penipu, maling, dan lain sebagainya. Pada keadaan seperti ini, konon dikisahkan datang pasukan "tambuh sangkane" dari Banten menyerbu Pakuan, ibu kota Kerajaan Pajajaran.

Naskah Carita Parahyangan menceritakan bagaimana akhirnya Prabu Nilakendra ini kalah perang, sejak saat itulah dia terpaksa melarikan diri dari keraton. Dia beserta rombongan dan para pengiringnya mengungsi ke daerah Sukabumi selatan.

Ketika ada penyerangan dari Banten, rakyat mengamankan diri sendiri. Mereka banyak mengungsi dari pelosok kota, yang sekiranya tidak terjangkau oleh prajurit Banten, sebagian lagi melarikan diri ke Pulasari.

Para abdi negara sebagian banyak masih di keraton, tetapi ada juga yang kembali ke negara di bawahan Pajajaran. Menurut carita pantun disebutkan, di Pakuan masih terdapat orang-orang pengawal raja yang disebut Bareusan Panganginan. Konon terdapat tiga orang senopati yang mengendalikan Pajajaran di antaranya yaitu Demang Haurtangtu, Puun Buluh Pananjung, dan Guru Alas Lintang Kedesan.

Editor: Ihya Ulumuddin

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya

iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut