Kepala Sekolah SMP Swasta di Surabaya Cabuli 6 Siswanya

Ihya Ulumuddin ยท Jumat, 05 Juli 2019 - 16:37:00 WIB
Kepala Sekolah SMP Swasta di Surabaya Cabuli 6 Siswanya
Kasubdit IV Renakta Ditreskrimum Polda Jatim AKBP Festo Ari Permana memaparkan kasus pencabulan yang dilakukan kepala sekolah sebuah SMP swasta di Surabaya, Jumat (5/7/2019). (Foto: iNews.id/Ihya Ulumuddin)

SURABAYA, iNews.id - Kasus kejahatan seksual kembali terjadi di sekolah di Surabaya, Jawa Timur (Jatim). Ali Sodikin (40), seorang kepala sekolah sebuah SMP swasta di Surabaya melakukan pencabulan terhadap enam orang siswanya.

Tak hanya itu, Ali Sodikin juga melakukan kekerasan terhadap enam siswa tersebut. Dia memukul korban menggunakan paralon di bagian punggung, kemudian meremas kemaluan mereka.

“Kejahatan ini dilakukan beberapa kali di tempat berbeda. Di kelas, di tempat wudhu dan musala, saat sedang berzikir,” kata Kasubdit IV Renakta Ditreskrimum Polda Jatim AKBP Festo Ari Permana, Jumat (5/7/2019).

Vesto belum mengetahui motif kejahatan seksual oleh kepala sekolah ini. Saat ini, penyidik masih melakukan pendalaman, termasuk mencari tahu kemungkinan korban lain dalam kasus ini.

“Sementara (korban) baru enam orang, bisa juga lebih. Dalam kejahatan seperti ini, korban biasanya takut melapor,” katanya.

Sebagaimana kasus ini, korban baru mengaku dan melapor, setelah lebih dari sebulan kejadian. Peristiwa pencabulan yang terjadi pada April ini baru terungkap sekarang. “Ini bermula dari pengakuan salah seorang korban. Setelah itu, beberapa korban lain ikut mengaku,” katanya.

Atas kejadian ini, Vesto berharap para orang tua lebih peka terhadap kondisi yang terjadi pada anaknya. Mereka harus memastikan anak-anaknya aman dari segala tindak kejahatan.

“Ini miris sekali. Kejahatan justru terjadi di lembaga pendidikan. Maka, peran orang tua penting sekali. Upaya penegakan hukum polisi terhadap satu-dua kasus belum cukup untuk memberantas tindak kejahatan seksual pada anak,” katanya.

Sementara itu, atas kejahatan ini, pelaku dijerat Pasal 80 dan atau Pasal 82 Undang-Undang (UU) RI No 17 Tahun 2016 tentang perubahan UU RI No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Ancaman hukumannya 15 tahun penjara.

Editor : Maria Christina