Jadi Korban Body Shamming, Dosen Brawijaya Lapor Oknum ASN ke Polisi

Ihya Ulumuddin, Deni Irwansyah ยท Jumat, 27 Juli 2018 - 09:21 WIB
Jadi Korban Body Shamming, Dosen Brawijaya Lapor Oknum ASN ke Polisi
Dosen Ilmu Politik Universitas Brawijaya (UB) Maulina Pia Wulandari memperlihatkan foto dirinya yang diedit dan menjadi bahan bullying dan disebar di media sosial oleh oknum ASN. (Foto: iNews/Deni Irwansyah)

MALANG, iNews.id - Dosen Ilmu Politik Universitas Brawijaya (UB) Maulina Pia Wulandari melaporkan oknum Aparatur Sipil Negara (ASN) berinisial SR ke Mapolresta Malang, Kamis (26/7/2018) malam. Laporan itu dibuat atas dugaan pencemaran nama baik melalui media sosial dan viral beberapa hari terakhir.  

Dalam laporan Pia disebutkan, fisiknya yang gemuk dijadikan obyek bullying oleh SR dan disebar ke media sosial. Foto Pia diedit menjadi langsing, dan diberi tulisan percakapan tak pantas, seolah-olah itu percakapan Pia dengan editing foto. 

"Saya tahunya dari anak-anak. Mereka bilang, kalau foto saya diedit seseorang dan dijadikan bahan bullying di facebook, twitter dan instagram. Begitu lihat, kaget juga, ternyata saya dibikin langsing dan dijadikan bahan olok-olokan," kata Pia sesuai melapor ke unit Cyber Crime Polresta Malang, Kamis (26/7/2018). 

Yang membuat Pia sakit hati, dalam foto tersebut juga diberi percakapan,  seolah-olah dia yang memesan dan menginginkan editan foto tersebut. "Di situ ditulis tarif editing juga.  Ini yang membuat saya dan keluarga malu. Apalagi beberapa kolega bahkan menelpon menanyakan foto tersebut," kata perempuan yang juga pengamat politik tersebut. 

Terkait identitas pelaku, Pia mengaku tidak tahu, apalagi mengenalnya. Namun, berdasarkan penelusuran di akun fecebook, SR adalah seorang ASN di Pemkab Bontang, Kalimantan Timur. "Dia ini (pelaku) ASN. Sungguh sangat tidak pantas berbuat seperti itu," keluhnya. 

Kapolresta Malang, AKBP Asfuri membenarkan laporan tersebut. Saat ini tim Cyber Crime Polresta Malang juga telah menelusuri akun pelaku untuk melengkapi berkas penyelidikan. "Laporan sudah kami terima dan tengah didalami untuk dilakukan tahap selanjutnya," katanya, Jumat (27/7/2018).

Asfuri menjelaskan, laporan korban terhadap aksi bullying tersebut adalah untuk memberikan efek jera kepada pelaku. Lebih dari itu, korban juga berharap kasus tersebut menjadi pelajaran bagi seluruh warganet untuk lebih bijak dalam bersosialmedia. 

"Menjadikan kondisi fisik sebagai bahan candaan atau body shamming adalah tidak bijak. Apalagi korban memiliki keluarga dan anak-anak," ucapnya.


Editor : Himas Puspito Putra