Hari Batik Nasional 2 Oktober, Gubernur Khofifah: Saya Ini Batikholic

Ihya Ulumuddin ยท Rabu, 02 Oktober 2019 - 09:26 WIB
Hari Batik Nasional 2 Oktober, Gubernur Khofifah: Saya Ini Batikholic
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa antusias untuk memilih batik. (Foto: iNews.id/Ihya Ulumuddin)

SURABAYA, iNews.id – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa antusias menyambut Hari Batik Nasional yang jatuh setiap tanggal 2 Oktober. Berkenaan dengan hal itu, seluruh pegawai di lingkungan Pemprov Jatim hari ini diwajibkan mengenakan pakaian khas Indonesia tersebut.

Khofifah secara terang-terangan mengaku sebagai pecinta batik. Bahkan, Ketua Umum PP Muslimat menyebut dirinya sebagai batikholic. Koleksi beragam dari seluruh wilayah Indonesia.

Bagi Khofifah, batik lebih dari sekadar kain bermotif. Namun, merupakan identitas sekaligus alat pengikat dan perekat persatuan bangsa.


“Sering kali saat kunjungan ke daerah, saya berusaha menyempatkan ke sentra pengrajin batik dan membelinya. Tidak cuma dikoleksi, tapi juga saya pakai untuk berbagai agenda kegiatan. Saya ini batikholic,” ujarnya, Rabu (2/10/2019).

Menurutnya, tersebarnya para pengrajin dari Sabang sampai Merauke menjadi bukti batik mampu menjadi alat pemersatu bangsa. Kendati berakar dari Jawa, tetapi batik telah meluas menjadi budaya Indonesia dan diproduksi di berbagai daerah.

Khofifah menyampaikan, menjaga dan melestarikan batik merupakan salah satu bentuk ungkapan kecintaan terhadap kesenian serta budaya nusantara. Apalagi, UNESCO telah menetapkan batik sebagai warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) pada tanggal 2 Oktober 2009 silam.

“Sebagai anak bangsa, ada baiknya kita mengerti segala hal tentang batik. Baik asal usul, teknik pembuatan, motif, serta maknanya. Kita bisa mulai dari mengebal batik dari daerah asal masing-masing,” ucapnya.

Di Jawa Timur kata dia, sedikitnya ada delapan daerah yang dikenal luas sebagai penghasil batik. Yaitu Madura, Tulungagung, Mojokerto, Sidoarjo, Ponorogo, Banyuwangi dan Tuban. Ragam corak dan motif dari daerah tersebut tidak sama antara satu dengan yang lainnya meski sama-sama berasal dari Jatim.

“Pemprov saat ini sedang berupaya mengangkat pamor batik asal Jatim agar tidak hanya di level nasional. Namun juga keluar negeri dengan peningkatan mutu produk. Tentunya ini butuh dukungan seluruh masyarakat Jatim. Ayo dukung mereka (pengrajin batik) dengan membeli dan memakai produknya,” kata Khofifah.

Saat ditanya soal jumlah koleksi, Khofifah mengaku tidak tahu persis angkanya. Namun, dia menempatkan batik-batik koleksi miliknya tersebut dalam tempat khusus. Beberapa kain batik miliknya sengaja tidak untuk dijahit, tetapi hanya untuk koleksi. 

“Saya yakin setiap batik pasti punya makna filosofis dan nilai historisnya masing-masing. Pun dalam proses pembuatan ornamen, harmonisasi warna dan lain sebagainya. Pendeknya, setiap batik punya cerita yang menarik untuk disimak. Bahkan saya lebih tertarik saat sang pembatik cerita alur cerita batiknya,” tuturnya.


Editor : Donald Karouw