Gus Im Sering Disebut Pasukan Bawah Tanah NU, Ini Profilnya

Ihya Ulumuddin ยท Sabtu, 01 Agustus 2020 - 12:44 WIB
Gus Im Sering Disebut Pasukan Bawah Tanah NU, Ini Profilnya
KH Hasyim Wahid (Gus Im) dan Gus Dur. (Foto: Istimewa)

SURABAYA, iNews.id – Kabar wafatnya KH Hasyim Wahid (Gus Im) mengagetkan banyak orang, terutama para aktivis muda Nahdlatul Ulama (NU) dan PMII. Sebab, adik bungsu KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini cukup dekat dengan mereka.

Gus Im sering menjadi teman diskusi, menyampaikan gagasan-gagasan brilian tentang segala hal, terutama urusan negara, realita sosial hingga kebangsaan. Hanya saja, tak banyak orang tahu tentang sosok kiai nyentrik ini, kecuali mereka yang berpengalaman di dunia pergerakan.

Pengasuh Ponpes Denanyar Jombang, KH Abdussalam Sohib (Gus Salam) menceritakan, hampir semua tokoh muda NU yang kini menduduki posisi strategis merupakan buah dari sentuhan Gus Im. Beberapa di antaranya Ketua Umum DPP PKB, Muhaimin Iskandar; Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa hingga mantan Menaker, Hanif Dhakiri.

Di luar itu, aktivis pergerakan lain, kata Gus Salam, juga sangat dekat dengan Gus Im, termasuk kalangan militer. “Beliau ini mendidik generasi muda NU luar biasa. Selain paham tentang geopolitik, sanad keilmuannya juga bagus. Mirip Gus Dur,” katanya kepada iNews.id, Sabtu (1/8/2020).

Namun, Gus Im tidak pernah mau tereskpose. Karena itu, di kalangan NU, Gus Im dikenal sebagai pasukan bawah tanah ulama NU. Tidak pernah muncul, tetapi buah pikirannya selalu menjadi warna, terutama untuk kepentingan bangsa dan negara.

Layaknya pasukan bawah tanah, Gus Im juga sulit dicari. Dia kadang muncul secara tak terduga, di mana saja. Bahkan, Gus Dur sendiri pernah kesulitan mencari.

“Beliau ini seperti dewa angin. Sulit dicari. Ada cerita, Gus Dur pas jadi presiden, nyari Gus Im ke mana-mana gak ketemu, hingga berbulan-bulan. Tahu-tahu beliau ada di sebuah perumahan di Malang,” katanya.

Gus Salam mengaku baru empat kali bertemu dengan Gus Im. Namun, dia menilai Gus Im punya kecermatan tinggi dalam melihat masa depan.

“Saya tidak bisa sampaikan di sini. Intinya, ada beberapa perkataan Gus Im yang saya baru paham setelah kejadian. Itu sering sekali,” ujar kiai muda NU ini.

Seperti kiai nyentrik NU lainnya, Gus Salam menilai sangat sulit mencari pengganti sosok Gus Im di NU. “Gus Im itu sama dengan Gus Dur dan Gus Miek (KH Chamim Thohari Djazuli/pengasuh Pesantren Al Falah, Ploso, Kediri). Sulit mencari gantinya. Nunggu cetakannya dari Gusti Allah,” ujarnya.

Informasi yang dihimpun, Gus Im pernah mondok di sejumlah pesantren. Gus Im juga pernah kuliah di beberapa perguruan tinggi, namun tidak tuntas. Beberapa di antaranya setengah semeter di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI) dan satu smester di Fakultas Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB).

Di dunia politik Gus Im pernah terlibat dalam Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Gus Im juga tercatat pernah duduk di jajaran Ketua PBNU di masa kepemimpinan KH Said Aqil Siroj periode 2010-2015, namun, tak pernah aktif. Selain itu, dia juga pernah duduk di kepengurusan DPP PDIP semasa Gus Dur menjadi Presiden ke-4 RI.

Diketahui, adik almarhum KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), KH Wahid Hasyim (Gus Im) wafat Sabtu (1/8/2020) menjelang Subuh. Putra KH Wahid Hasyim itu meninggal dunia di Rumah Sakit (RS) Mayapada Jakarta pukul 04.18 WIB.

Jenazah Gus Im akan dimakamkan di Ponpes Denanyar Jombang sesuai wasiat. Jenazah akan diberangkatkan dari Ciganjur, Jawa Barat, menggunakan jalur darat.


Editor : Ihya Ulumuddin