Dipecat karena Covid-19, Ratusan Buruh Pabrik Rambut Palsu di Sidoarjo Demo

Pramono Putra ยท Rabu, 08 Juli 2020 - 15:25 WIB
Dipecat karena Covid-19, Ratusan Buruh Pabrik Rambut Palsu di Sidoarjo Demo
Ratusan buruh berdemonstrasi menuntut pabrik rambut palsu mempekerjakan kembali para buruh yang dipecat di Kabupaten Sidoarjo, Jatim, Rabu (8/7/2020). (Foto: iNews/Pramono Putra)

SIDOARJO, iNews.id – Ratusan buruh pabrik rambut palsu di Desa Wedi, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, menggelar demonstrasi di depan pintu masuk perusahaan, Rabu (7/7/2020) siang. Massa memprotes perusahaan yang telah melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK).

Dengan membawa mobil komando, para buruh ini bedemonstrasi di depan pabrik dan menutup pintu masuk PT Hair Star Sidoarjo. Buruh secara bergantian berorasi menuntut agar perusahaan mempekerjakan lagi sekitar 300 buruh yang telah dipecat.

Para buruh mengatakan, perusahaan PT Hair Star Sidoarjo memecat para buruh dengan alasan terdampak pandemi Covid-19. Sementara produsen rambut palsu itu dinilai masih mampu mempekerjakan para buruh.

“Kami dipecat dengan alasan sedang pandemi Covid-19,” kata salah satu pengunjuk rasa Siti Aminah.

Namun, perusahaan juga tidak memberikan hak-hak para buruh yang telah di-PHK. Massa mendesak perusahaan segera mencairkan Tunjangan Hari Raya (THR) kepada para buruh. Tak hanya itu, massa mendesak perusahaan membayar upah yang dipotong secara sepihak akibat pandemi Covid-19.

Siti Aminah mengatakan, para buruh telah melaporkan kasus PHK sepihak itu kepada Dinas Tenaga Kerja Pemkab Sidoarjo. Namun, hingga kini belum ada tindak lanjut dari perusahaan.

“Belum ada tindakan sama sekali dari perusahaan dengan alasan Covid-19. Untuk itu, kami menuntut perusahaan agar segera mengambil tindakan atas dugaan pelanggaran yang dilakukan perusahaan terkait hak-hak buruh,” kata Siti Aminah.

Meskipun buruh menutup pintu masuk pabrik, hingga kini tidak ada respons dari pihak perusahaan. Hingga saat ini tidak ada satupun pihak perwakilan perusahaan yang mau menemui awak media untuk memberikan keterangan. Sementara buruh yang kecewa pun mengancam akan terus menduduki pintu masuk perusahaan.


Editor : Maria Christina